Journal Gamas

Label

lisensi

Red
Agustus 11, 2026, 18.58 WIB
Last Updated 2026-08-11T12:00:26Z
HeadlineMuslim

Waktu Adalah Anugerah Berharga: Jangan sia-siakan dan Persiapkan Bekal Terbaik untuk Pulang

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Setiap hari, usia kita semakin bertambah usia, secara naluri umumnya manusia akan memiliki perubahan dalam memandang hidup. Pada masa remaja atau masa muda, biasanya yang sering membuat hati gelisah adalah nilai sekolah, pekerjaan, percintaan, karier, jabatan, atau bagaimana terlihat sukses di mata manusia.

Namun seiring berjalannya waktu, terdapat satu pelajaran berharga, yaitu kita mengalami kehilangan atas keluarga, sahabat, tetangga atau orang-orang yang kita kenal, satu per satu mereka dipanggil oleh Allah (meninggal dunia). Pada kesempatan ini, penulis akan merangkumkan tulisan dari berbagai sumber agar kita semua tidak menyia-nyiakan waktu untuk berbuat yang tidak bermanfaat, tapi mari manfaatkan waktu kita sebaik baiknya agar kita memiliki bekal terbaik saat waktu kepulangan kepada Allah itu tiba.

Kita Semua sedang mengantri menunggu Kepulangan

Waktu adalah modal utama kehidupan, siapa yang tidak mengisinya dengan keimanan, amal saleh, dan kebaikan, sungguh sedang mengalami kerugian yang terbesar karena tidak ada yang tahu kapan waktu kita berpulang.

Dengan fakta ini, semestinya kita sadar bahwa perlu setiap saat menyiapkan diri agar ketika dipanggil kembali kepada Allah, kita telah memiliki bekal keimanan dan ketakwaan. Allah subhanahu wata’ala berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1-3).

Sadarkah Dunia ini Hanyalah Tempat Singgah sebentar

Banyak orang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan dunia, seakan akan akan hidup selamanya. Padahal setiap hari yang berlalu sesungguhnya mendekatkan kita kepada kematian.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari). Seorang musafir tidak akan terlalu sibuk memperindah tempat persinggahannya karena ia tahu tujuan akhirnya bukan di sana. Demikian pula seorang mukmin, dunia hanyalah tempat menanam amal untuk dipanen hasilnya di akhirat.

Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara dan pasti merasakan mati. Allah berfirman: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-'Ankabut: 57).

Ingatlah, kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Seorang muslim juga tidak boleh hanya fokus pada masa depan di dunia, tetapi juga harus mempersiapkan kehidupan akhirat dan agar hati tentram. Allah berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Manfaatkan Waktu Sebelum Terlambat

Rambut yang mulai memutih, dan tubuh yang tidak lagi sekuat dulu bukanlah sekadar tanda penuaan, melainkan peringatan lembut dari Allah agar manusia sadar bahwa waktu mereka hidup itu tidak lama dan pasti ada saatnya mereka Kembali kepada Allah dan mereka harus ingat tujuan penciptaannya yaitu agar beribadah kepada Allah.

Salah satu penyesalan terbesar manusia kelak adalah ketika menyadari bahwa waktu yang diberikan Allah telah berlalu tanpa banyak amal. Rasulullah ﷺ bersabda: "Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim). Kesempatan yang ada hari ini belum tentu ada esok hari. Karena itu, seorang muslim hendaknya memanfaatkan waktu untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Mari Kumpulkan Bekal Terbaik sebelum kita Pulang

Ketika semakin banyak orang yang mendahului kita (meninggal dunia), seyogyanya hati yang bersih merasa seperti diingatkan setiap hari bahwa suatu saat kita pun akan menyusul. Kita tentu tidak perlu takut akan kematian ini secara berlebihan, melainkan agar kita bisa mempersiapkan perbekalan kita berpulang dengan sebaik-baiknya.

Allah berfirman: "Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197). Sungguh bekal yang paling bernilai bukanlah harta yang ditinggalkan, melainkan iman, takwa, amal saleh, sedekah, ilmu yang bermanfaat, doa yang tulus, serta jejak kebaikan yang terus mengalir pahalanya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila anak Adam meninggal dunia, putuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim).

Demikian artikel ini saya tulis agar menjadi pengingat penulis pribadi dan sesame muslim, selama Allah masih memberi kesempatan hidup, janganlah sia-siakan waktu yang tersisa. Mari perbanyak ibadah, berdoa, beristighfar, bersyukur dan beramal shaleh. Jangan biarkan usia bertambah tanpa adanya peningkatan kualitas ibadah dan kedekatan kepada Allah.

Ibadah itu perlu ilmu, maka teruslah mencari ilmu syari agar beribadah sesuai tuntunan Rasululloh. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, bukan pula seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih. Yang paling berharga adalah sejauh mana hati kita dekat dengan Allah ketika saat pulang itu tiba. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita sebagai umur yang penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan diakhiri dengan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

/Oleh: Riki Irfan ST M.Si 

Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan