Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Di tengah duka yang menyelimuti jelang Hari Raya Idulfitri, secercah harapan mulai menghampiri Iwan (40) dan istrinya, Nur, warga Desa Karanganyar, Kecamatan Darma. Setelah rumah mereka ambruk akibat hujan deras, bantuan dari pemerintah akhirnya datang meringankan beban yang mereka pikul.
Musibah itu terjadi pada Jumat pagi, 20 Maret 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Rumah sederhana milik Iwan di RT 07/RW 02 Blok Pahing roboh setelah tak mampu menahan derasnya hujan yang mengguyur sejak malam sebelumnya. Bangunan yang telah lama rapuh itu runtuh seketika, menyisakan puing-puing dan kepedihan mendalam.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, Iwan dan keluarganya harus kehilangan satu-satunya tempat berteduh, tepat di saat masyarakat lain tengah bersiap menyambut Lebaran.
Di tengah situasi sulit itu, perhatian dari pemerintah mulai mengalir. Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani yang akrab disapa Amih Tuti, turut memberikan bantuan kepada korban. Selain itu, bantuan juga disalurkan oleh Dinas Sosial Kabupaten Kuningan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga terdampak bencana.
Kepala Desa Karanganyar, Didi Siduardi, menyampaikan bahwa pihaknya bergerak cepat berkoordinasi dengan instansi terkait begitu menerima laporan kejadian.
“Alhamdulillah, bantuan sudah mulai disalurkan, baik dari Ibu Wakil Bupati, Amih Tuti, maupun dari Dinas Sosial Kabupaten Kuningan. Bantuan ini sangat membantu untuk kebutuhan darurat korban,” ujarnya. Jumat (20/3/2026)
Adapun bantuan yang diberikan meliputi terpal, tikar, selimut, pakaian, serta kebutuhan pokok untuk menunjang kehidupan sementara Iwan dan keluarganya.
Meski demikian, kebutuhan utama yang masih menjadi harapan besar adalah pembangunan kembali rumah yang telah rata dengan tanah. Bantuan yang ada saat ini baru mampu menjadi penopang sementara di tengah kondisi yang serba terbatas.
Kisah Iwan menjadi potret pilu di balik suasana suka cita menjelang Idulfitri. Ketika banyak orang sibuk mempersiapkan hari kemenangan, ia justru harus berjuang dari nol, membangun kembali kehidupan dari puing-puing yang tersisa.
Kini, harapan sederhana terus dipanjatkan: memiliki kembali tempat berteduh yang layak, agar bisa menyambut hari esok dengan lebih pasti.
/Yogi, Moris


