Journal Gamas

Label

lisensi

Red
Maret 04, 2026, 14.26 WIB
Last Updated 2026-03-04T07:26:56Z
HeadlinePendidikan

Jagung dan Satu Telur, FORMASI Kritik Kualitas MBG di Sindangagung

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah video yang diunggah akun TikTok Rama Sucy beredar luas di media sosial. Dalam tayangan tersebut disebutkan bahwa siswa SDN 1 Babakanreuma, Kecamatan Sindangagung, Kabupaten Kuningan, hanya menerima menu berupa jagung, satu butir telur, satu buah pisang, dan satu donat.

Video itu sontak memicu beragam reaksi dari warganet. Tidak sedikit yang mempertanyakan kelayakan dan kecukupan gizi dari menu yang diberikan kepada siswa sekolah dasar tersebut.

Sorotan tajam datang dari Ketua Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI) Kabupaten Kuningan, Manap Suharnap. Ia menilai, apabila informasi dalam video tersebut benar, maka hal itu perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak terkait.

“Program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak sekolah. Jika menu yang diterima seperti yang beredar di media sosial, tentu harus ada evaluasi menyeluruh, baik dari sisi kualitas, kuantitas, maupun standar gizinya,” ujar Manap.

Menurutnya, program publik yang menyangkut kebutuhan dasar anak-anak tidak boleh dijalankan sekadar menggugurkan kewajiban administratif. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran, perencanaan menu, hingga pengawasan distribusi makanan.

“Jangan sampai tujuan mulia program ini tercoreng oleh lemahnya pengawasan di lapangan. Anak-anak adalah generasi penerus yang harus dijamin asupan gizinya secara layak dan berimbang,” tegasnya.

Manap juga meminta agar pihak sekolah maupun instansi yang bertanggung jawab segera memberikan klarifikasi resmi agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan di tengah masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SDN 1 Babakanreuma maupun pihak terkait mengenai video yang beredar tersebut. Publik kini menanti penjelasan sekaligus langkah konkret untuk memastikan program MBG benar-benar berjalan sesuai dengan standar dan tujuan yang telah ditetapkan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa implementasi program sosial tidak hanya membutuhkan niat baik, tetapi juga komitmen kuat terhadap kualitas, transparansi, dan akuntabilitas demi kepentingan masyarakat luas, khususnya anak-anak sebagai penerima manfaat utama.


/Red