Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Desember 20, 2025, 16.11 WIB
Last Updated 2025-12-20T09:11:34Z
EksosbudHeadline

Hasil Sidak DPRD Tokoh Pemuda Marhaen Jabar Kritik Wisata Arunika, Akses Publik Tertutup dan Lahan Pertanian Tergerus

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan pembangunan pariwisata di Kabupaten Kuningan yang dinilai semakin menjauh dari prinsip keadilan lingkungan dan keberpihakan terhadap masyarakat. Ia menegaskan, para pemangku kebijakan, termasuk DPRD, seharusnya tidak hanya piawai membangun narasi pembenaran, tetapi hadir secara nyata untuk mengoreksi kesalahan pembangunan di lapangan.

Menurut Iwa, keberadaan objek wisata yang dibangun di atas lahan yang sebelumnya merupakan area pertanian, serta berdekatan langsung dengan kawasan hijau hutan di lereng sungai menuju wilayah Cilengkrang, berpotensi besar menimbulkan ancaman serius terhadap keseimbangan lingkungan. Dampak tersebut tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Ia mengungkapkan bahwa aktivitas pertanian di sekitar lokasi pembangunan wisata kini terhenti, sementara aliran air yang selama ini digunakan untuk pengairan sawah turut terganggu akibat pembangunan permanen yang dinilainya tidak bijak.

Secara khusus, Iwa menyoroti kawasan wisata Arunika yang menurut pengalamannya pribadi telah menutup akses jalan yang biasa digunakan masyarakat melalui jalur Cilengkrang.
“Jalur yang biasanya saya lalui kini terhalang tembok. Bahkan saat memutar jalan, akses menuju wilayah Cilengkrang justru tertutup dan diblok. Ini menimbulkan kesan seolah-olah ada upaya penguasaan lahan secara permanen dan masyarakat tidak lagi diberi ruang untuk melintas,” tegasnya. Sabtu (20/12/2025)

Ia pun menilai kondisi tersebut sebagai bentuk penguasaan lahan yang serakah. Menurutnya, pembangunan wisata semestinya dibatasi dengan regulasi yang ketat dan berkeadilan, bukan sekadar ditutupi dengan narasi penanaman pohon. Pasalnya, di lapangan justru ditemukan banyak pohon yang telah ditebang dan dibersihkan, termasuk jenis tanaman lokal seperti pohon kesemek yang kini terancam punah.
“Pembatasan area wisata itu mutlak harus ada. Jangan sampai karena uang entah dari mana asalnya lalu pengusaha berbondong-bondong menguasai dan menguras habis lahan pertanian produktif, sementara masyarakat sekitar sama sekali tidak merasakan dampaknya,” pungkas Iwa.

/Red