Journal Gamas

Label

lisensi

Red
Juni 06, 2026, 13.43 WIB
Last Updated 2026-06-06T06:43:15Z
EksosbudHeadline

Kuningan Dipilih Kementan dan Pemprov Jabar Jadi Pusat Gerdal Hama Padi

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Kabupaten Kuningan kembali mendapat kepercayaan sebagai lokasi pelaksanaan Gerakan Pengendalian (Gerdal) serentak tingkat Provinsi Jawa Barat dalam upaya pengamanan produksi padi dari ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Kegiatan yang dipusatkan di Desa Koreak, Kecamatan Cigandamekar, Kamis (4/6/2026), menjadi bagian dari langkah strategis memperkuat ketahanan pangan melalui penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Gerakan pengendalian dilaksanakan sebagai respons atas serangan Penggerek Batang Padi (PBP) yang teridentifikasi pada hamparan seluas 50 hektare dengan intensitas serangan mencapai 10,63 persen. Penanganan dilakukan secara terpadu melalui pengamatan lapangan, pemanfaatan musuh alami, pengelolaan lingkungan pertanaman, hingga penggunaan pestisida secara tepat dan terukur sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian melalui Ketua Tim Kerja/Kelompok Substansi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Serealia Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Gandi Purnama, S.P., M.Si., menegaskan bahwa Pengendalian Hama Terpadu merupakan strategi utama dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus mempertahankan keseimbangan ekosistem.

“PHT bukan sekadar metode teknis, tetapi sebuah pendekatan sistemik yang mengutamakan keseimbangan alam dan keberlanjutan produksi. Apa yang dilakukan di Kuningan menunjukkan praktik pengendalian yang baik dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain,” ujarnya.

Gandi juga menekankan bahwa keberhasilan Gerakan Pengendalian sangat ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, dilaksanakan dalam hamparan yang luas, serta dilakukan secara berkesinambungan hingga populasi hama benar-benar terkendali.

“Tiga kunci keberhasilan Gerdal adalah dilakukan bersama-sama, dilakukan dalam areal yang luas, dan dilakukan secara berkelanjutan. Jika ketiga prinsip ini diterapkan, maka efektivitas pengendalian akan jauh lebih tinggi dan risiko penyebaran OPT dapat ditekan secara signifikan,” tegasnya.

Apresiasi serupa disampaikan Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jawa Barat, Ir. R. Nungke Rochjatti, M.P. Menurutnya, dipilihnya Kuningan sebagai pusat pelaksanaan Gerdal serentak Jawa Barat tidak terlepas dari kecepatan dan keseriusan daerah dalam merespons setiap laporan serangan OPT.

“Kuningan menunjukkan respons yang sangat baik. Tidak hanya bergerak cepat melakukan pengendalian di lapangan, tetapi juga aktif membangun kesadaran petani melalui pendampingan dan komunikasi yang intensif. Sinergi antara pemerintah daerah, POPT, penyuluh, dan petani berjalan sangat baik sehingga layak menjadi lokasi pelaksanaan Gerdal tingkat Jawa Barat,” katanya.

Kegiatan ini dihadiri oleh Koordinator SATPEL Wilayah III Indramayu Pipin Rudianto, S.P., Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., Kepala UPTD Brigade Proteksi Tanaman Yudi Frayudi, S.P., M.P., Kepala UPTD KPP/BPP Cilimus Diana, S.T., unsur Forkopimcam, penyuluh pertanian, petugas POPT, serta kelompok tani di wilayah terdampak.

Tanaman padi yang menjadi sasaran pengamatan terdiri atas berbagai varietas, di antaranya Inpari, Mapan P05, dan varietas lokal dengan umur tanaman 30 hingga 40 hari setelah tanam. Selain pengendalian menggunakan insektisida berbahan aktif dimehipo, upaya pengamanan tanaman juga didukung oleh keberadaan musuh alami seperti Lycosa sp. dan Paederus sp. yang berperan penting dalam menekan populasi hama secara alami.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menegaskan bahwa Pengendalian Hama Terpadu harus menjadi fondasi utama dalam sistem perlindungan tanaman yang berkelanjutan.

“Pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan kimiawi. Kita harus mengedepankan prinsip PHT yang memadukan pengamatan lapangan, pemanfaatan musuh alami, pengelolaan agroekosistem, serta intervensi yang tepat sasaran. Dengan cara itulah produktivitas pertanian dapat terjaga secara berkelanjutan,” tegasnya.


Menurut Wahyu, Pemerintah Kabupaten Kuningan terus memperkuat sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi serangan OPT melalui sinergi antara Brigade Proteksi Tanaman, petugas POPT, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.

“Kami ingin memastikan setiap laporan serangan ditangani secara cepat, terukur, dan berbasis data. Yang dibangun bukan hanya kemampuan merespons, tetapi juga sistem kewaspadaan dini agar ancaman OPT dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi serangan yang lebih luas,” ujarnya.

Wahyu juga mengimbau petani untuk tidak menunda pelaporan apabila menemukan gejala serangan hama maupun penyakit pada tanaman pangan di wilayahnya.

“Kami mengajak seluruh petani untuk segera melapor apabila menemukan indikasi serangan hama atau penyakit tanaman. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula tindakan pengendalian dapat dilakukan sehingga potensi kerugian dapat diminimalkan,” katanya.

Untuk mempercepat penanganan di lapangan, petani dapat menghubungi Brigade Proteksi Tanaman Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan melalui nomor 0852-1614-8391. Layanan ini disiapkan sebagai bagian dari sistem deteksi dini dan respons cepat dalam pengamanan produksi pertanian di Kabupaten Kuningan.

“Jangan menunggu serangan meluas. Laporkan sejak gejala awal muncul agar petugas dapat segera melakukan identifikasi dan memberikan rekomendasi pengendalian yang tepat,” tegas Wahyu.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pengendalian sangat ditentukan oleh partisipasi aktif petani sebagai garda terdepan di lapangan.

“Ketika petani memahami prinsip-prinsip PHT dan terlibat aktif dalam pengamatan serta pengendalian, maka upaya perlindungan tanaman akan jauh lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Inilah yang terus kami dorong di Kabupaten Kuningan,” katanya.

Pada saat yang sama, Gerakan Pengendalian juga dilaksanakan secara serentak di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat melalui pendekatan hybrid yang menggabungkan aksi lapangan dengan koordinasi dan pemantauan daring. Pola ini memungkinkan sinkronisasi data, percepatan respons antarwilayah, serta penguatan sistem kewaspadaan dini terhadap ancaman OPT pada sentra-sentra produksi padi.

Melalui langkah cepat, kolaboratif, dan berbasis Pengendalian Hama Terpadu, Kabupaten Kuningan tidak hanya berupaya menekan potensi kehilangan hasil akibat serangan hama, tetapi juga memperkuat model perlindungan tanaman yang adaptif dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan daerah dan nasional.

/Moris