Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Fenomena makin maraknya atribut, konvoi, hingga euforia terhadap klub sepak bola Persib Bandung di Kabupaten Kuningan pada era kepemimpinan Dian Rahmat Yanuar menuai kritik tajam dari Ketua Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI), Manap Suharnap.
Menurut Manap, pemerintah daerah dinilai lebih sibuk membangun kedekatan populis dengan euforia klub besar dibanding menunjukkan keberpihakan nyata terhadap klub kebanggaan daerah sendiri, yakni Pesik Kuningan.
“Di era Bupati Dian Rahmat Yanuar, bendera Persib makin berkibar di Kuningan. Hampir di berbagai sudut mudah ditemukan atribut Persib. Tapi ironisnya, nasib Pesik Kuningan justru seperti anak kandung yang diperlakukan bak anak pungut di rumahnya sendiri oleh orang tua kandungnya,” ujar Manap kepada awak media, Ahad (24/5/2026).
Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar soal sepak bola, melainkan menyangkut keberpihakan pemerintah terhadap identitas dan harga diri daerah.
“Tidak ada yang salah masyarakat mencintai Persib. Itu hak warga dan bagian dari budaya sepak bola. Tapi yang kami pertanyakan adalah sikap pemerintah daerah. Jangan sampai pemerintah justru terlihat lebih bangga menumpang popularitas klub luar dibanding membesarkan klub milik daerah sendiri,” tegasnya.
Manap menyebut selama ini perhatian terhadap Pesik Kuningan dinilai minim, baik dari sisi pembinaan, fasilitas, kompetisi, hingga dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Ia bahkan menilai pemerintah terkesan membiarkan klub lokal hidup segan mati tak mau.
“Pesik ini membawa nama Kuningan. Tapi perlakuannya seperti tidak dianggap. Jangan heran kalau generasi muda nanti lebih hafal sejarah Persib dibanding sejarah klub daerahnya sendiri, karena pemerintahnya pun tidak hadir memberi kebanggaan terhadap tim lokal,” katanya.
FORMASI juga menyinggung gaya kepemimpinan yang dinilai lebih menitikberatkan pada pencitraan dan panggung popularitas ketimbang pembangunan identitas daerah secara substansial.
“Jangan sampai olahraga hanya dijadikan panggung pencitraan politik. Ketika ramai dan viral didekati, tapi ketika klub daerah membutuhkan perhatian justru dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah yang jelas,” sindir Manap.
Dengan mata berkaca-kaca, Manap turut mengenang sosok almarhum Aang Hamid Suganda yang menurutnya memiliki perhatian kuat terhadap marwah dan kebanggaan daerah, termasuk dalam dunia olahraga.
“Kami rindu era kepemimpinan Aang Hamid Suganda,” ucapnya lirih di kediamannya di Cirendang, Ahad (24/5/2026).
Menurutnya, pada masa kepemimpinan almarhum, pemerintah hadir bukan sekadar mencari simpati publik, tetapi benar-benar menjaga identitas daerah agar tidak kehilangan jati dirinya.
“Dulu semangat membangun kebanggaan daerah terasa nyata. Sekarang yang terlihat justru bagaimana ikut larut dalam popularitas luar, sementara rumah sendiri perlahan kehilangan kebanggaannya,” tambahnya.
FORMASI pun mendesak Pemerintah Kabupaten Kuningan dan Bupati Dian Rahmat Yanuar melakukan evaluasi serius terhadap masa depan Pesik Kuningan, mulai dari pembinaan usia muda, dukungan anggaran, fasilitas olahraga, hingga arah pengembangan klub secara profesional.
“Kalau pemerintah daerah sendiri tidak punya keberanian membesarkan Pesik, lalu siapa lagi yang akan menjaga marwah sepak bola Kuningan?” pungkasnya.
/Red


