Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Polemik data kependudukan Jaelani kini mengarah pada dugaan persoalan yang lebih serius. Fakta yang terungkap menunjukkan, perubahan status pekerjaan dalam KTP baru dilakukan pada Selasa, 21 April 2026 setelah kasus ini mencuat dan menjadi sorotan publik.
Padahal, hanya lima hari sebelumnya, tepatnya 16 April 2026, KTP tersebut sudah dicetak oleh Disdukcapil. Namun saat itu, status pekerjaan Jaelani masih tercatat sebagai karyawan swasta.
Perubahan yang terjadi setelah tekanan publik ini memunculkan pertanyaan besar:
mengapa pembaruan data tidak dilakukan sejak awal jika memang status sebenarnya sudah berbeda?
Kepala Bidang Pelayanan dan Pendaftaran Penduduk Disdukcapil, Helmi Johar, S.Sos, mengonfirmasi adanya pembaruan tersebut. Sementara Jaelani berdalih bahwa keterlambatan terjadi karena “lupa”, dengan alasan KTP berlaku seumur hidup.
Dalih ini langsung dipatahkan secara logika administrasi oleh pengamat kebijakan publik, Manap Suharnap.
“Dalam praktiknya, status pekerjaan bukan hal sepele. Apalagi jika yang bersangkutan PNS. Setiap pengajuan administrasiterutama ke lembaga keuangan selalu mensyaratkan kesesuaian data antara KTP dan dokumen resmi seperti SK PNS. Sangat sulit dipercaya jika ini hanya soal lupa,” ujarnya.
Manap menegaskan, ketidaksinkronan data dalam jangka waktu lama berpotensi menimbulkan konsekuensi serius.
“Kalau data tidak sesuai dan tetap digunakan dalam berbagai kepentingan administratif, ini bisa masuk ranah pelanggaran. Pertanyaannya sekarang: sejak kapan ketidaksesuaian ini terjadi, dan untuk apa data itu digunakan?” tegasnya.
Situasi ini memperkuat persepsi publik bahwa pembaruan data bukan dilakukan secara normal, melainkan setelah persoalan terlanjur terbuka ke ruang publik.
Kini, sorotan tidak lagi sekadar pada perubahan data, tetapi juga pada kemungkinan dampak yang ditimbulkan dari ketidaksesuaian tersebut.
Publik menanti klarifikasi yang lebih dari sekadar alasan “lupa”.
Karena dalam urusan data kependudukan, satu detail kecil bisa berujung pada persoalan besar.
/Red


