Journal Gamas

Label

lisensi

Red
April 10, 2026, 10.13 WIB
Last Updated 2026-04-10T03:15:46Z
EksosbudHeadline

Refleksi 222 Tahun Cikandang, Jejak Sejarah dan Arah Pembangunan Masa Depan

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, menghadiri Rapat Paripurna BPD dalam rangka Milangkala Desa Cikandang ke-222 Tahun 2026 yang digelar di halaman Balai Desa Cikandang, Kecamatan Luragung, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Cikandang tersebut berlangsung khidmat sekaligus meriah. Salah satu rangkaian penting dalam acara ini ditandai dengan penyerahan simbolis buku sejarah Desa Cikandang dari Kepala Desa kepada Bupati, dengan judul “Cikandang dari Awal hingga Masa Kontemporer”.Buku tersebut memuat perjalanan panjang desa sejak awal berdiri hingga masa kini sebagai bentuk dokumentasi sejarah sekaligus identitas lokal.

Momentum penyerahan buku ini menjadi pengingat akan panjangnya perjalanan sejarah Desa Cikandang yang sarat dengan nilai perjuangan dan proses transformasi. Desa Cikandang diketahui memiliki akar sejarah yang bermula dari Desa Gandaresik pada tahun 1804, yang kemudian mengalami beberapa fase perpindahan sebagai bagian dari upaya masyarakat dalam mencari kehidupan yang lebih baik.

Pada masa awal, desa dipimpin oleh Kuwu Jangkung, sosok ikonik dengan postur tinggi yang memimpin masyarakat di wilayah Geresik. Dalam kondisi geografis yang masih terbatas, masyarakat saat itu menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan peternakan.

Kepemimpinan selanjutnya dilanjutkan oleh Setra Ganda yang membawa perubahan melalui perpindahan wilayah akibat keterbatasan sarana serta faktor keamanan. Dalam fase ini pula tercatat sejarah Dusun Cipaheut yang menjadi simbol keteguhan dan pengorbanan masyarakat dalam menjaga keselamatan desa.

Perkembangan ekonomi mulai terlihat melalui industri kain tenun dengan pewarna alami yang dipelopori oleh Ibu Openg. Aktivitas tersebut menjadikan wilayah ini dikenal sebagai Kampung Pabrik, yang pada masanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Perpindahan terakhir terjadi pada masa Kuwu Setra Maya akibat krisis air bersih dan gangguan keamanan. Desa kemudian menetap di wilayah yang memiliki sumber mata air melimpah, yang melatarbelakangi lahirnya nama “Cikandang” sebagai simbol kemakmuran dan keberlimpahan air.

Hingga saat ini, Desa Cikandang dikenal sebagai desa yang harmonis dengan ketersediaan air bersih yang melimpah. Kondisi tersebut menjadi warisan berharga dari para sesepuh terdahulu sekaligus fondasi utama kesejahteraan masyarakat hingga kini.

Ketua Panitia, Angga Ahmad, dalam laporannya menyampaikan bahwa Milangkala Desa Cikandang merupakan wujud rasa syukur atas bertambahnya usia desa, sekaligus momentum untuk mengenang sejarah, menghormati jasa para pendiri, serta mempererat silaturahmi masyarakat.

“Tema Milangkala tahun ini yaitu  Lahir dari Budaya, Tumbuh dalam Kebersamaan. Tema ini mengandung makna bahwa desa terbentuk dari nilai-nilai budaya yang diwariskan, dan berkembang melalui kebersamaan serta gotong royong masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan telah dilaksanakan sejak 4 April 2026, di antaranya sunatan massal bekerja sama dengan Rumah Sakit Juanda, ziarah ke makam leluhur Abah Bubuh Jangung, senam sehat, hingga pentas seni burok lokal. Puncak acara diisi dengan rapat penetapan hari jadi desa, gelar seni budaya oleh pemuda Desa Cikandang melalui grup gamelan Laras Sastra Pakuan, serta pagelaran wayang golek oleh Ki Dalang Irwana P.R.G. Sunandar.

Sementara itu, Kepala Desa Cikandang, Didi Tarsadi, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Milangkala tahun ini menjadi pengalaman perdana dalam mengemas peringatan hari jadi desa secara lebih terstruktur dan meriah.

Ia juga mengungkapkan rasa syukur serta terima kasih kepada Bupati Kuningan atas penetapan Desa Cikandang sebagai lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN), yakni pembangunan Sekolah Rakyat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati yang telah menunjuk Desa Cikandang sebagai lokasi Proyek Strategis Nasional. Mudah-mudahan ini membawa dampak positif bagi pembangunan desa ke depan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Bupati Dian menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Cikandang merupakan langkah strategis dalam meningkatkan akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan.

“Sekolah Rakyat ini bukan hanya untuk Desa Cikandang, tetapi juga untuk Kecamatan Luragung dan Kabupaten Kuningan. Ini merupakan bagian dari upaya memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan,” tegasnya.

Bupati juga memaparkan berbagai capaian serta tantangan pembangunan Kabupaten Kuningan dalam satu tahun kepemimpinannya, termasuk upaya penyelesaian persoalan keuangan daerah serta peningkatan infrastruktur.

“Dengan segala keterbatasan anggaran, kami terus berupaya menuntaskan berbagai persoalan daerah secara bertahap. Infrastruktur jalan menjadi prioritas karena merupakan urat nadi perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Ia menargetkan perbaikan ratusan kilometer jalan di Kabupaten Kuningan dapat diselesaikan dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan melalui sinergi anggaran daerah dan dukungan pemerintah pusat.

Selain itu, Bupati juga menekankan pentingnya membangun jejaring dan konektivitas hingga ke tingkat pusat guna mempercepat pembangunan daerah.

“Sekecil apa pun peluang harus dimanfaatkan. Jangan hanya berdiam diri, karena masyarakat menaruh harapan besar kepada kita sebagai pemimpin,” tambahnya.

Menutup sambutannya, Bupati Dian mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Milangkala sebagai momentum refleksi sekaligus penguatan rasa memiliki terhadap desa.

“Milangkala ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan kecintaan terhadap desa. Dengan rasa memiliki, sebesar apa pun persoalan akan dapat diselesaikan bersama,” pungkasnya.

Dengan usia ke-222 tahun, Desa Cikandang diharapkan terus berkembang menjadi desa yang maju, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya serta semangat gotong royong sebagai fondasi utama pembangunan.

/Moris