Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Arah pembangunan kawasan wisata Palutungan, Kabupaten Kuningan, mendapat kritik tajam dari tokoh pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan. Ia menilai pembangunan yang berlangsung saat ini tidak mencerminkan konsep pembangunan berkelanjutan, melainkan cenderung mengedepankan kepentingan ekonomi jangka pendek dengan mengorbankan lingkungan dan masyarakat.
Menurut Iwa, pemerintah daerah dinilai gagal menghadirkan pembangunan yang terintegrasi dan bertanggung jawab secara ekologis. Ia menyebut, pembangunan di kawasan tersebut lebih menitikberatkan pada tampilan luar pariwisata, tanpa memperhatikan dampak jangka panjang.
“Yang dibangun hanya etalase wisata. Sementara di baliknya, lingkungan rusak dan masyarakat menanggung akibatnya,” ujar Iwa. Rabu (2/4/2026)
Pembangunan infrastruktur dan kawasan wisata di Palutungan disebut telah berdampak pada berkurangnya lahan produktif milik masyarakat. Iwa mengungkapkan bahwa alih fungsi lahan pertanian menjadi salah satu persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.
Selain itu, ia juga menyinggung adanya dugaan ketimpangan dalam proses pembebasan lahan yang dinilai lebih menguntungkan pihak tertentu.
“Rakyat kehilangan ruang hidupnya, sementara manfaat pembangunan tidak dirasakan secara merata,” tegasnya.
Sorotan lain yang disampaikan adalah minimnya sistem pengelolaan lingkungan di kawasan wisata tersebut. Berdasarkan kondisi di lapangan, disebutkan belum adanya sistem drainase terpadu, pengelolaan limbah yang memadai, maupun penataan kawasan penyangga.
Akibatnya, aliran limbah dari berbagai aktivitas di kawasan hulu berpotensi mencemari wilayah hilir, terutama saat curah hujan tinggi.
Iwa juga menyoroti kondisi infrastruktur air seperti sungai, bendungan kecil, dan pintu air yang dinilai tidak mendapatkan perhatian serius. Salah satu contoh yang disampaikan adalah kawasan Lebak Sipeong yang selama ini menjadi sumber air bagi pertanian, namun kini mengalami kerusakan dan penurunan fungsi.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat.
Peristiwa kematian sekitar 1.500 ikan dewa di Cigugur turut menjadi sorotan. Iwa menilai kejadian tersebut sebagai indikator adanya gangguan ekologis yang tidak bisa diabaikan.
Ia menduga, kondisi tersebut berkaitan dengan kualitas air yang menurun akibat bercampurnya limbah dari kawasan hulu, terutama saat intensitas hujan tinggi.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius, maka potensi bencana seperti banjir, longsor, hingga krisis air bersih dapat terjadi.
Sebagai bentuk kepedulian, Iwa Gunawan mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah-langkah konkret, di antaranya:
Evaluasi menyeluruh pembangunan kawasan Palutungan
Audit perizinan dan proses pembebasan lahan
Pembangunan sistem drainase dan pengelolaan limbah terpadu
Rehabilitasi infrastruktur air
Peninjauan kembali proyek wisata yang belum berbasis kajian lingkungan
Iwa menegaskan bahwa pembangunan seharusnya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
“Pembangunan yang baik adalah yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, bukan yang mengorbankan salah satunya,” pungkasnya.
/Red



