Journal Gamas

Label

lisensi

Red
Maret 23, 2026, 21.34 WIB
Last Updated 2026-03-23T14:34:04Z
EksosbudHeadline

Redupnya Ikon Ikan Dewa Cigugur Saat Lebaran: Eksploitasi Air Dan Salah Urus Jadi Sorotan

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Di saat daerah lain menuai lonjakan wisata pada momentum Idul Fitri, Kolam Ikan Dewa Cigugur justru tenggelam dalam kesunyian. Kawasan yang dulu menjadi ikon kebanggaan Kabupaten Kuningan kini tampak muram: air keruh, kolam rusak, dan ikan dewa yang selama ini menjadi daya tarik utama nyaris lenyap.

Situasi ini memantik kritik keras dari Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan. Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar kelalaian, melainkan indikasi kuat salah urus yang sistemik, terutama dalam pengelolaan sumber daya air.

“Yang terjadi hari ini bukan lagi sekadar persoalan teknis. Ini soal arah kebijakan. Komunitas hanya dijadikan alat untuk pemenuhan PAD, sementara lingkungan dikorbankan. Air diambil, tapi habitat dihancurkan,” tegas Iwa.

Perubahan kondisi kolam disebut terjadi secara drastis. Air yang dahulu jernih hingga memperlihatkan dasar bebatuan alami kini berubah keruh kecoklatan. Lebih jauh, populasi ikan dewa dilaporkan mengalami kematian massal sebuah alarm keras bagi keberlangsungan ekosistem.

Sorotan juga mengarah pada proyek pembangunan pintu air pembuangan yang tak kunjung rampung. Alih-alih menjadi solusi, proyek tersebut justru dinilai memperparah situasi.

“Pembangunannya lambat, tidak terarah, dan seperti kehilangan sense of crisis. Ini bukan hanya molor, tapi gagal menjawab kebutuhan mendesak di lapangan,” ujarnya.

Lebih jauh, desain rehabilitasi kolam dianggap mengabaikan prinsip dasar ekologis. Struktur alami yang sebelumnya menopang kehidupan ikan kini tergantikan oleh bangunan permanen yang justru menutup ruang hidup habitat.

“Ruang alami yang dulu menjadi sistem penyangga kehidupan ikan, sekarang ditutup beton. Ini bukan rehabilitasi, ini perusakan dengan dalih pembangunan,” kata Iwa.

Dampaknya terasa langsung pada sektor wisata dan ekonomi warga. Jika sebelumnya Cigugur menjadi magnet kunjungan saat libur Lebaran, kini kawasan tersebut justru ditinggalkan.

“Biasanya H+1 sampai H+3 penuh. Orang datang dari berbagai daerah. Sekarang kosong. Bahkan warga sendiri enggan masuk. Ini bukan penurunan, ini kejatuhan,” ungkapnya.

Kondisi ini dinilai sebagai bukti nyata bahwa salah kelola tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mematikan potensi ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada sektor wisata.

Iwa menegaskan, akar masalah terletak pada pendekatan pengelolaan yang eksploitatif menjadikan air sebagai komoditas tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan.

“Air diperlakukan seperti barang dagangan. Diambil terus, tapi tidak ada tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya. Ketika rusak, responsnya lambat, bahkan terkesan abai,” katanya.

Ia juga menilai kematian ikan dewa sebagai indikator serius kerusakan lingkungan yang tidak boleh dianggap sepele.

“Kalau ikan yang selama ini hidup puluhan tahun bisa mati, itu artinya ada yang salah besar. Ini bukan kejadian biasa, ini sinyal bahaya,” tegasnya.

Iwa mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan untuk tidak lagi menunda evaluasi total terhadap pengelolaan kawasan Cigugur. Ia menekankan perlunya perubahan paradigma dari eksploitasi menuju konservasi.

“Air itu sumber kehidupan, bukan sekadar sumber PAD. Kalau terus dipaksakan seperti ini, bukan hanya ikan yang hilang, tapi juga masa depan lingkungan dan masyarakatnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya sense of urgency dalam penanganan kerusakan yang terjadi.

“Yang lebih memprihatinkan, saat kolam rusak dan ikan mati, tidak terlihat langkah cepat dan serius. Seolah dibiarkan. Ini yang membuat publik bertanya: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab?” katanya.

Menutup pernyataannya, Iwa mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Cigugur harus menjadi refleksi bersama.

“Ini bukan sekadar hilangnya ikon wisata. Ini alarm bahwa kita gagal menjaga keseimbangan alam. Kalau terus dibiarkan, dampaknya akan lebih luas bukan hanya lingkungan, tapi juga kehidupan manusia itu sendiri,” pungkasnya.

/Red