Journal Gamas

Label

lisensi

Red
Maret 11, 2026, 19.14 WIB
Last Updated 2026-03-11T12:14:31Z
EksosbudHeadline

ESDM Mulai Garap BBMT dari Sampah, KAWALI: Momentum Strategis Jawab Ancaman Krisis Energi Nasional

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Upaya pemerintah mendorong pengembangan Bahan Bakar Minyak Terbarukan (BBMT) dari pengolahan sampah mulai menunjukkan arah yang lebih serius. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menghadapi ancaman krisis energi sekaligus mengatasi persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan di berbagai daerah.

Pembahasan mengenai pengembangan BBMT tersebut mengemuka dalam rapat yang digelar Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta pada 11 Maret 2026. Pertemuan itu membahas status pengembangan teknologi, spesifikasi produk, hingga rencana penyusunan standar nasional bagi bahan bakar hasil pengolahan sampah.

Ketua KAWALI DPD Kuningan, Yanyan Anugraha, menilai langkah pemerintah tersebut merupakan sinyal penting bahwa Indonesia mulai mencari solusi energi yang lebih berkelanjutan di tengah ketergantungan besar terhadap energi fosil.

Menurutnya, persoalan energi nasional saat ini berada pada titik yang cukup mengkhawatirkan. Konsumsi energi terus meningkat setiap tahun, sementara cadangan energi fosil seperti minyak bumi semakin menipis.

“Jika tidak mulai mengembangkan sumber energi alternatif secara serius, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan energi di masa depan. Inovasi seperti BBMT dari sampah ini harus dipandang sebagai bagian dari solusi strategis,” ujar Yanyan, Rabu (11/3/2026).

Dari hasil pembahasan bersama ESDM, terdapat beberapa langkah konkret yang akan segera dilakukan pemerintah dalam mengawal pengembangan BBMT. Salah satunya adalah rencana kunjungan tim ESDM ke pusat workshop pengolahan bahan bakar dari sampah di Banjarnegara yang dijadwalkan pada April 2026. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat secara langsung proses produksi serta memastikan aspek teknologi dan keamanan produk.

Selain itu, tim pengembang teknologi tersebut juga akan dilibatkan sebagai anggota Komisi Teknis dalam perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk BBMT. Langkah ini dinilai penting agar produk bahan bakar yang dihasilkan memiliki standar kualitas yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian ESDM juga tengah mempersiapkan regulasi dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen) beserta aturan turunannya. Regulasi ini nantinya akan menjadi dasar hukum agar hanya produk BBMT yang telah melalui proses verifikasi dan memenuhi standar yang dapat didistribusikan secara bebas di masyarakat.

Bagi KAWALI, langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai menyadari pentingnya membangun sistem energi baru yang tidak hanya berbasis sumber daya alam konvensional, tetapi juga memanfaatkan potensi limbah yang selama ini belum dikelola secara optimal.

Indonesia sendiri menghadapi persoalan sampah yang sangat besar. Setiap tahun, jutaan ton sampah dihasilkan oleh aktivitas rumah tangga maupun industri. Tanpa pengelolaan yang tepat, sampah tersebut tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi beban bagi pemerintah daerah.

Yanyan menilai teknologi konversi sampah menjadi bahan bakar berpotensi mengubah paradigma pengelolaan limbah di Indonesia.

“Jika teknologi ini dikembangkan secara serius, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sumber energi baru yang memiliki nilai ekonomi,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan energi alternatif tidak boleh berhenti pada tahap wacana atau proyek percontohan semata. Pemerintah perlu memastikan adanya dukungan kebijakan, pendanaan riset, serta integrasi dengan sistem energi nasional.

Menurutnya, tanpa dukungan regulasi yang kuat dan ekosistem industri yang jelas, inovasi energi alternatif sering kali berhenti pada skala laboratorium atau pilot project.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian politik dan kebijakan yang konsisten. Jika pemerintah serius, pengolahan sampah menjadi energi bisa menjadi salah satu pilar penting ketahanan energi nasional,” ujarnya.

KAWALI pun berharap langkah yang sedang dirintis oleh ESDM ini dapat menjadi awal dari transformasi besar dalam sektor energi di Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi daerah-daerah untuk berkontribusi dalam pengembangan energi terbarukan berbasis potensi lokal.

“Ini bukan sekadar proyek teknologi, tetapi bagian dari upaya besar menyiapkan masa depan energi Indonesia. Jika dikelola dengan benar, inovasi seperti BBMT bisa menjadi jawaban atas kegelisahan masyarakat terhadap ancaman krisis energi di masa yang akan datang,” pungkas Yanyan.

/Red