Advertisement
JOURNALGAMAS.COM, - Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari kekuatan ekonominya atau kemajuan teknologinya.
Bangsa yang besar diukur dari seberapa dalam ia menghormati sejarahnya dan seberapa luhur ia menjaga adabnya.
Di negeri yang dibangun oleh perjuangan para pendiri bangsa ini, tradisi ziarah kepada para tokoh besar adalah bagian dari budaya penghormatan yang telah hidup lama dalam peradaban Nusantara.
Ketika Dipertuan Agung DANRI Sultan Sepuh KGSS. Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja melakukan ziarah ke makam Proklamator Bangsa Ir. Soekarno di Makam Bung Karno Blitar, yang dilakukan sesungguhnya bukanlah sekadar kunjungan biasa.
Itu adalah laku penghormatan, sebuah pengingat bahwa bangsa ini berdiri di atas pengorbanan para pemimpin besar yang telah meletakkan fondasi kemerdekaan.
Namun di tengah niat baik tersebut, muncul narasi yang berusaha menggiring opini dengan sudut pandang yang sempit—lahir bukan dari kebijaksanaan, melainkan dari rasa suka dan tidak suka.
Padahal jika kita menilai secara jernih dan adil, posisi duduk menggunakan kursi saat berziarah bukanlah sesuatu yang aneh atau patut dipersoalkan. Bahkan putri sang Proklamator sendiri, Megawati Soekarnoputri, pernah berziarah kepada ayahandanya dengan posisi yang sama.
Apakah penghormatan itu kemudian menjadi salah hanya karena dilakukan oleh orang yang berbeda?
Pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menggugah kesadaran kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi adab dan tata krama.
Jika kita melihat tradisi ziarah di berbagai makam tokoh bangsa di Nusantara, faktanya tidak ada satu bentuk baku yang harus sama di setiap tempat. Ada makam yang menyediakan tempat duduk, ada pula yang tidak. Ada yang berziarah sambil duduk bersila di lantai, ada yang berdiri, dan ada pula yang menggunakan kursi karena faktor usia, kesehatan, atau protokol tertentu.
Artinya, esensi ziarah tidak pernah ditentukan oleh posisi duduk seseorang, melainkan oleh niat penghormatan yang dibawa dalam hati.
Dalam tradisi Nusantara yang diwariskan oleh para leluhur, kehormatan tidak pernah lahir dari pengakuan diri, apalagi dari kekuatan materi.
Kehormatan lahir dari sejarah, pengabdian, keteladanan, serta pengakuan masyarakat yang tumbuh secara alami dari waktu ke waktu.
Karena itu, bangsa ini tidak memerlukan lebih banyak orang yang sibuk menciptakan panggung.
Bangsa ini memerlukan lebih banyak keteladanan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.
Sebagaimana yang sering disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat karena persatuan, penghormatan kepada sejarah, serta kesetiaan pada nilai-nilai luhur bangsa.
Dalam semangat itulah, setiap penghormatan kepada para pendiri bangsa seharusnya dipandang sebagai tindakan kebangsaan, bukan dijadikan bahan prasangka atau fitnah.
Karena pada akhirnya, sejarah selalu mencatat dengan jujur.
Ia tidak pernah keliru membedakan antara mereka yang tulus menjaga marwah bangsa dan mereka yang sekadar mencari sorotan panggung.
Para leluhur Nusantara telah lama mengajarkan sebuah kebijaksanaan sederhana:
“Adab adalah mahkota manusia.
Tanpa adab, setinggi apa pun seseorang berdiri, ia tidak akan pernah tampak mulia.”
Dan pada akhirnya, waktu akan memperlihatkan kepada kita semua
siapa yang sungguh-sungguh mengabdi kepada bangsa,
dan siapa yang hanya sibuk berbicara tentang dirinya sendiri.
/Red


