Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Februari 19, 2026, 11.46 WIB
Last Updated 2026-02-19T04:46:58Z
HeadlineSosial

Tradisi Obrog Ramadhan di Kabupaten Kuningan Perlu Pengawasan, Rokhim Wahyono Imbau Antisipasi Perang Sarung

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Datangnya bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan kebahagiaan bagi umat Muslim. Suasana religius, semangat ibadah, serta tradisi membangunkan sahur yang dikenal masyarakat Kuningan sebagai obrog menjadi bagian dari kemeriahan yang dinantikan setiap tahun.

Namun di balik tradisi tersebut, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap berbagai potensi penyimpangan yang dapat menggeser tujuan utama puasa Ramadhan itu sendiri.

Sekretaris Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI), Rokhim Wahyono, mengingatkan bahwa tradisi obrog yang bertujuan meramaikan Ramadhan sekaligus membangunkan sahur sering kali diwarnai tindakan negatif, terutama fenomena perang sarung antar kelompok remaja.

“Ramadhan adalah momentum meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Tradisi membangunkan sahur tentu baik, tetapi jangan sampai berubah menjadi ajang konflik yang justru merusak nilai ibadah,” ujar Rokhim.

Menurutnya, perang sarung bukan sekadar kenakalan remaja biasa karena berpotensi menimbulkan kekerasan dan korban jiwa.

Ia menyinggung peristiwa yang pernah terjadi di Kelurahan Cirendang, di mana aksi perang sarung dilaporkan sempat menelan korban jiwa. Meski kasus tersebut tidak memiliki kejelasan akhir, peristiwa itu dinilai sebagai pelajaran penting agar kejadian serupa tidak terulang.

Rokhim menegaskan bahwa pencegahan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, ulama, hingga pemerintah daerah dan aparat keamanan.

“Perlu langkah antisipatif dari semua pihak, baik masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah mulai dari Bupati hingga tingkat RT, serta pihak kepolisian. Jika memang diperlukan, sebaiknya ada imbauan resmi agar kegiatan Ramadhan tetap berjalan kondusif,” katanya.

Ia juga mengajak para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak dan remaja pada malam hari selama bulan Ramadhan, sehingga tradisi yang ada tetap membawa nilai positif.

FORMASI berharap tradisi obrog tetap dilestarikan sebagai bagian dari budaya dan syiar Ramadhan, namun harus dijaga agar tidak menyimpang dari tujuan utama puasa, yakni membentuk pribadi yang lebih baik secara lahir dan batin.

Dengan pengawasan dan kesadaran bersama, masyarakat diharapkan dapat menjaga suasana Ramadhan tetap aman, damai, dan penuh keberkahan.

/Red