Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Rehabilitasi kolam ikan dewa di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, dinilai harus dilakukan dengan pendekatan ekologis dan berbasis pengetahuan lingkungan, bukan sekadar proyek fisik semata.
Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menegaskan bahwa mata air di Cigugur merupakan sumber kehidupan ekologis yang menopang keberlangsungan ikan dewa serta ekosistem di sekitarnya.
“Perbaikan kolam tidak boleh hanya sebatas membangun tembok atau mempercantik tampilan. Yang utama adalah mengembalikan sirkulasi air seperti aslinya. Ikan harus bisa bergerak leluasa, terutama saat memasuki masa mijah atau bertelur,” ujar Iwa, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, kolam ikan harus cukup luas dengan pembatas berupa rongga-rongga berlubang, bukan tembok permanen yang menghambat pergerakan air dan ikan. Akses menuju sumber mata air di hulu juga perlu dibuka agar ikan dapat berenang ke arus yang lebih deras saat proses pemijahan.
“Ikan membutuhkan arus deras untuk proses pembuahan agar telurnya terlindungi. Jika akses ditutup bangunan permanen, maka siklus reproduksi akan terganggu,” tegasnya.
Ia juga menyoroti keberadaan bak penampungan milik PDAM Kabupaten Kuningan yang dibangun langsung di sumber mata air. Menurutnya, bangunan tersebut menghambat aliran alami air ke kolam ikan.
“Air deras yang seharusnya langsung mengalir ke kolam justru tertahan. Kami mendorong agar bak penampungan utama dipindahkan ke luar area sumber mata air atau minimal di luar kawasan kolam ikan dewa, sehingga distribusi air untuk masyarakat, petani, dan kolam dapat berjalan transparan dan adil,” katanya.
Iwa mengingatkan agar pemerintah daerah tidak mendominasi pemanfaatan air hanya untuk kepentingan distribusi PDAM tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Ia juga mengkritik sebagian pegiat yang mengatasnamakan masyarakat namun dinilai tidak sepenuhnya memperjuangkan aspirasi petani sawah maupun pemilik kolam ikan.
“Silakan mencari nafkah di kawasan kolam, tetapi jangan sampai mengorbankan petani dan masyarakat kecil. Bangun saluran air ke sawah dengan tuntas, jangan setengah jalan lalu terbengkalai karena alasan dana,” ujarnya.
Selain soal sumber mata air, Iwa menyoroti kondisi kawasan Ciereng di bawah kolam yang dahulu menjadi ruang sosial warga untuk mengambil air dan berinteraksi. Kini, menurutnya, kawasan tersebut berubah menjadi area kumuh dan dipenuhi sampah.
Ia juga meminta penataan ulang saluran pembuangan air dari arah belakang Kodim hingga jalan raya agar dialihkan ke wilayah Lebak Sipeong, bukan ke Ciereng. Pasalnya, saat hujan deras, air bercampur sampah meluap ke kolam dan mencemari habitat ikan.
“Perbaikan saluran air sangat penting. Jangan sampai air hujan bercampur limbah masuk ke kolam dan menyebabkan kematian ikan seperti yang sudah terjadi, yang jumlahnya mencapai lebih dari seribu ekor,” ungkapnya.
Iwa menegaskan bahwa rehabilitasi kolam ikan dewa Cigugur harus berwawasan lingkungan dan berorientasi pada pelestarian jangka panjang, bukan sekadar proyek pembangunan fisik.
Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Kuningan, termasuk unsur terkait seperti pengelola kawasan dan instansi teknis, untuk bertanggung jawab menjaga habitat ikan dewa dari eksploitasi berlebihan tanpa kontrol dan pemeliharaan yang jelas.
“Jangan sampai ini dimaknai sebagai keserakahan yang melampaui batas. Air adalah sumber kehidupan. Jika hulunya rusak, maka hilirnya akan menanggung akibatnya,” pungkas Iwa Gunawan.
/Red



