Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Februari 06, 2026, 08.25 WIB
Last Updated 2026-02-06T01:25:51Z
HeadlinePeristiwa

Kematian Ikan Dewa di Cigugur Jadi Penanda Rapuhnya Ekosistem Hulu

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Kematian massal ikan dewa (Tor douronensis) di kawasan mata air Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dinilai sebagai penanda terganggunya keseimbangan ekosistem di wilayah hulu. Peristiwa ini memunculkan kembali persoalan tata kelola air, alih fungsi lahan, serta menurunnya kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai kematian ikan dewa yang dikenal sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air tidak bisa dilepaskan dari rusaknya habitat alami.

“Jika ikan yang hidup di mata air saja bisa mati, ini menunjukkan ada masalah serius pada ekosistemnya. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru kehilangan keseimbangannya,” ujar Iwa, Rabu (5/2/2026).

Perubahan Aliran dan Struktur Mata Air

Menurut Iwa, salah satu pemicu kematian ikan dewa adalah kombinasi cuaca ekstrem selama beberapa hari dan terganggunya sirkulasi alami air. Curah hujan tinggi menyebabkan perubahan kualitas air, sementara aliran mata air yang selama ini menjadi sumber oksigen ikan tidak mengalir optimal.

Ia menyoroti perubahan struktur kolam yang kini tidak lagi menyediakan rongga alami sebagai jalur ikan menuju mata air.

“Dulu terdapat celah-celah yang memungkinkan ikan bergerak mencari oksigen segar. Sekarang banyak yang tertutup tembok atau jaring, sehingga ketika kondisi kritis, ikan kehilangan akses bertahan hidup,” katanya.

Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya pasokan makanan alami, yang membuat daya tahan ikan menurun.

Air dan Orientasi Pembangunan

Iwa menilai peristiwa ini juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap air. Air tidak lagi semata diperlakukan sebagai sumber kehidupan bersama, melainkan sebagai komoditas ekonomi.

“Air menjadi bernilai ketika diproduksi dan diperjualbelikan. Sementara kebutuhan ekologisnya sering diabaikan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa wilayah Parahyangan, khususnya Jawa Barat, sejak lama dikenal sebagai kawasan kaya air. Banyaknya daerah dengan awalan “Ci” yang berarti cai (air) menjadi penanda kuat hubungan masyarakat dengan sumber daya air.

“Kondisi ini menjadi ironis ketika wilayah yang dikenal subur justru mengalami tekanan air,” katanya.

Alih Fungsi Lahan dan Hilangnya Daya Resap

Selain persoalan air, Iwa menyoroti alih fungsi kawasan resapan dan hutan di sekitar mata air. Perubahan lahan menjadi permukiman, fasilitas wisata, hingga bangunan komersial dinilai mengurangi kemampuan alam menyimpan dan mengalirkan air secara alami.

Akibatnya, debit air ke wilayah bawah berkurang, sementara ekosistem di sekitar sumber air terganggu.

“Ketika hutan di hulu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga makhluk hidup lain yang sepenuhnya bergantung pada keseimbangan alam,” ujarnya.

Alarm bagi Tata Kelola Lingkungan

Bagi Iwa, kematian ikan dewa di Cigugur merupakan peringatan penting bahwa keseimbangan ekosistem di wilayah hulu berada dalam kondisi rapuh.

“Ikan dewa mati di sumber airnya sendiri. Ini semestinya menjadi alarm bagi semua pihak untuk menata ulang cara kita memperlakukan alam, terutama air sebagai sumber kehidupan bersama,” katanya.

Ia mendorong adanya kesadaran kolektif dan kebijakan pengelolaan air yang lebih adil dan berkelanjutan, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

/Red