Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Kebijakan pelarangan penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) di sekolah-sekolah dengan dalih meringankan beban ekonomi orang tua kini menuai kritik tajam. Sejumlah orang tua siswa mulai menyuarakan kegelisahan mereka terhadap ketidakkonsistenan aturan tersebut.
Menurut mereka, larangan LKS terasa kontradiktif ketika di sisi lain praktik anjuran mengikuti bimbingan belajar (bimbel) atau les privat di luar sekolah tetap marak, bahkan kerap mendapat “lampu hijau” secara tidak langsung dari pihak sekolah.
Salah seorang perwakilan orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengatakan, LKS sejatinya merupakan alat bantu belajar yang paling terjangkau bagi keluarga.
“LKS itu murah dan sangat membantu anak berlatih soal di rumah. Kalau alasannya soal beban biaya, kenapa justru itu yang dilarang? Padahal dengan biaya ringan, anak bisa mendapatkan tambahan latihan yang terstruktur,” keluhnya.
Keresahan utama para orang tua justru tertuju pada biaya bimbel yang bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan. Ironisnya, saran untuk mengikuti bimbel seringkali datang dari pihak pendidik dengan dalih agar siswa lebih siap menghadapi ujian.
Sebagai perbandingan, biaya LKS umumnya hanya berkisar puluhan ribu rupiah per semester, sementara biaya bimbel dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan.
“Kalau LKS dianggap beban, seharusnya bimbel yang biayanya jauh lebih mahal juga dievaluasi. Anak-anak yang tidak ikut les sering merasa tertinggal, sementara untuk ikut bimbel kami harus mengeluarkan biaya sangat besar,” tambahnya. Jumat (30/1/2026)
Para orang tua berharap pemerintah dan dinas pendidikan tidak hanya fokus melarang LKS, tetapi juga memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas agar siswa tidak perlu lagi bergantung pada bimbel mahal di luar sekolah. Jika LKS memang dilarang, sekolah diharapkan mampu menyediakan materi latihan yang mumpuni dan merata bagi seluruh siswa.
“Anak-anak kami ingin pintar bukan lewat bimbel, tapi dengan sarana penunjang belajar yang lebih murah dan adil,” pungkasnya.
/Moris


