Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Ketua Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI), Manap Suharnap, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang lebih akrab di sapa (KDM) yang menyebut Bupati Kuningan sebagai “pemimpin penakut”. Menurutnya, pernyataan tersebut tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga mencederai etika kepemimpinan serta mengabaikan kompleksitas persoalan lingkungan hidup di wilayah Kuningan.
Manap menegaskan, kritik terhadap kepala daerah sah untuk disampaikan. Namun, akan menjadi tidak adil dan cenderung provokatif apabila disampaikan tanpa keberanian untuk melihat fakta secara langsung di lapangan.
“KDM Bapak Aing, jangan sembarangan ngomong. Bupati kami disebut pemimpin penakut. Kalau memang KDM pemberani, silakan turun langsung ke Kuningan, ke lereng Gunung Ciremai. Di sana jelas ada pembangunan hotel dan rumah makan di daerah tangkapan air. Berani tidak menghentikannya seperti yang dilakukan di Bogor? Jangan cuma omon-omon,” tegas Manap. Minggu (11/1/2026)
Ia menambahkan, video pernyataan yang beredar tersebut secara eksplisit ditujukan kepada Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, yang merupakan pemimpin daerah pilihan rakyat Kuningan. Menurut FORMASI, penyederhanaan persoalan dengan melabeli “penakut” tidak menyelesaikan masalah, justru berpotensi memecah kepercayaan publik.
FORMASI yang merupakan gabungan sejumlah organisasi masyarakat sipil, di antaranya GAMAS, GIBAS, GARIS, LBI, dan FORWAKU, menilai bahwa penegakan hukum lingkungan harus dilakukan secara adil, konsisten, dan menyeluruh.
Manap menyatakan, FORMASI pada prinsipnya mendukung langkah penertiban dan penghentian aktivitas yang melanggar aturan lingkungan hidup. Namun, ia menilai sikap KDM menjadi tidak fair ketika hanya menyoroti wilayah tertentu, sementara wilayah lain yang juga telah dirilis oleh pihak Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki potensi pelanggaran serupa.
Ia secara khusus menyoroti dugaan penyalahgunaan tata kelola air di kawasan penyangga Gunung Ciremai, tepatnya di Desa Cisantana wilayah atas Palutungan, yang hingga kini dinilai luput dari perhatian serius.
“Di kawasan penyangga, Desa Cisantana wilayah atas Palutungan, ada indikasi kuat penyalahgunaan tata kelola air. Jika ingin bicara keberanian, semua wilayah yang terindikasi melanggar harus ditinjau dan ditindak. Jangan tebang pilih,” ujarnya.
FORMASI mendesak KDM untuk turun langsung ke lapangan bersama aparat penegak hukum lingkungan, khususnya Gakkum Lingkungan Hidup Jawa Barat, guna meninjau seluruh wilayah yang telah terindikasi melakukan pelanggaran, tanpa membedakan wilayah utara atau selatan.
“Kami mendorong KDM tidak berhenti pada pernyataan. Turun ke lapangan bersama Gakkum LH Jabar, lihat langsung fakta di Kuningan, dan tindak semua pelanggaran tanpa pandang bulu. Itu baru pemimpin yang berani dan adil,” pungkas Manap.
/Red


