Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Januari 14, 2026, 09.35 WIB
Last Updated 2026-01-14T02:35:14Z
EksosbudHeadline

Air Dijual, Petani Kuningan Mati di Tanah Sendiri

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Air yang mengalir dari kaki Gunung Ciremai tak lagi sepenuhnya menjadi sumber kehidupan bagi petani. Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pengelolaan air dinilai semakin menjauh dari kepentingan pertanian dan rakyat, setelah pemerintah daerah lebih memilih menjadikannya sebagai komoditas ekonomi demi mengejar pendapatan jangka pendek.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai eksploitasi air dari mata air dan kawasan hulu telah menggerus akses petani terhadap irigasi. Air dialirkan ke wilayah lain seperti Cirebon dan Indramayu melalui jaringan pipa, sementara sawah, kolam ikan, dan ladang di daerah sumber justru mengalami kekeringan, terutama saat musim kemarau.

“Ini ironi besar. Air diambil dari Kuningan, tapi petaninya kehilangan air. Mereka mati di lumbungnya sendiri,” kata Iwa kepada Journal Gamas.com.Rabu (14/01/2026).

Dampak kebijakan tersebut terlihat nyata di lapangan. Debit irigasi terus menurun, sawah mengering, tanah produktif berubah menjadi lahan kering, dan petani kehilangan sumber penghidupan. Banyak petani akhirnya terpaksa menjual lahannya dan beralih menjadi buruh tani karena tidak lagi memiliki pasokan air yang berkelanjutan.

Menurut Iwa, praktik tersebut bertentangan dengan prinsip dasar pengelolaan sumber daya alam yang seharusnya memprioritaskan kebutuhan rakyat dan sektor pertanian. Regulasi sebenarnya telah membedakan antara air baku untuk kebutuhan dasar dan irigasi dengan air untuk kepentingan komersial. Namun dalam praktiknya, pengaturan reservoir dan distribusi air justru meminggirkan petani.

Pemerintah daerah dinilai terlalu agresif mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor air, tanpa mempertimbangkan kerugian sosial dan ekonomi yang harus ditanggung petani. Kerugian itu tidak hanya berupa hilangnya pendapatan, tetapi juga melemahnya ketahanan pangan dan runtuhnya struktur sosial pedesaan.

“Jika air terus dikuras dan irigasi dibiarkan mati, yang terjadi bukan pembangunan, melainkan pemiskinan yang bersifat sistemik,” tegasnya.

Iwa mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap tata kelola air di kawasan kaki Gunung Ciremai serta mengembalikan prioritas penggunaan air bagi pertanian dan kebutuhan rakyat.

Tanpa koreksi kebijakan yang serius, ia memperingatkan krisis air dan pangan di Kuningan akan semakin dalam.

“Tanpa petani dan tanpa air, bangsa ini akan kehilangan masa depannya,” pungkas Iwa.

/Red