Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Desember 11, 2025, 12.15 WIB
Last Updated 2025-12-11T05:15:47Z
HeadlinePolitik

Harapan Publik Meredup: Wakil Rakyat Dinilai Kian Jauh dari Nurani

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Harapan masyarakat terhadap partai politik dan wakil rakyat di gedung parlemen kian meredup. Publik kini menilai bahwa cara bernegara dan cara aspirasi dikelola seolah tak lagi menyisakan ruang bagi suara hati dan kepentingan masyarakat luas.

Selama ini masyarakat masih menyimpan keyakinan bahwa akan muncul figur wakil rakyat yang patuh pada nurani, teguh memperjuangkan bangsa dan negara, serta tidak mengkhianati amanah konstituen.

Namun waktu terus berjalan, periode berganti, dan yang tampak justru semakin gamblang kegagapan dalam menjalankan tugas serta kecenderungan mementingkan kelompok dan kepentingan sempit.

Proses legislasi berjalan seperti jarum jam ketuk palu, rampung agenda, lalu kembali pada rutinitas yang jauh dari publik. Beberapa legislator hanya muncul ketika anggaran dibagi-bagikan, jatah program turun, atau fasilitas baru tiba. Sementara itu, fungsi pengawasan dan kontrol yang menjadi tugas utama DPRD justru sering menjadi ruang kompromi dan negosiasi politik.

Akibat terlalu dekat dengan lingkar kekuasaan, banyak legislator akhirnya bungkam. Keberanian bersuara lenyap, kritik padam, dan sanksi yang sudah jelas tertulis dalam aturan sering tak dijalankan. Kekuasaan yang menggiurkan justru menjadi arus kuat yang menyeret wakil rakyat jauh dari mandat publik.

Situasi ini membuat masyarakat semakin tidak peduli. Alih-alih menunggu wakilnya di parlemen bersuara, mereka memilih menyampaikan aspirasi melalui media sosial atau kanal lain yang dianggap lebih cepat dan berdampak. Publik melihat jalur digital sering kali jauh lebih efektif daripada berharap pada mereka yang duduk di kursi legislasi.

Kondisi surutnya kepercayaan ini disampaikan pengamat kebijakan publik, Santos Johar, dalam keterangannya kepada wartawan pada Kamis (11/12/2025). Ia menegaskan bahwa merosotnya kualitas representasi politik telah menjadi fenomena serius yang tak boleh diabaikan.

“Ketika wakil rakyat lebih memilih nyaman dalam kekuasaan ketimbang berdiri bersama masyarakat, maka hilanglah esensi perwakilan itu sendiri,” ujarnya.

/Red