Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia bersuka ria memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai kegiatan, mulai dari upacara bendera, perlombaan rakyat, doa Bersama dan syukuran di lingkungan Masyarakat atau instansi. Namun, syukuran kemerdekaan sejatinya bukan sekadar tradisi tahunan atau seremonial untuk mengenang perjuangan para pahlawan.
Lebih dari itu, syukuran HUT Kemerdekaan merupakan momentum untuk kita kembali mencintai tanah kelahiran kita dan bertekad untuk berkontribusi bagi kemajuan negeri. Cinta kepada tanah air seyogyanya merupakan bentuk Syukur, tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama warga.
Saat ini, ditengah era revolusi digital dan globalisasi, masyarakat semakin mudah terhubung dengan berbagai budaya, pemikiran, dan perkembangan dunia. Tentu hal ini bermanfaat menambah wawasn, namun tidak dapat dipungkiti keterbukaan global juga menghadirkan tantangan berupa menurunnya rasa memiliki terhadap bangsa sendiri, meningkatnya sikap apatis, serta kecenderungan lebih mengagumi negara lain daripada negeri sendiri (rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau).
Maka momen peringatan dan syukuran atas kemerdekaan negara ini perlu dijadikan sebagai ajang refleksi untuk memperkuat kembali nasionalisme, yaitu kecintaan terhadap tanah kelahiran kita yaitu Indonesia.
Cinta Tanah Kelahiran adalah Fitrah Manusia
Secara alamiah, manusia memiliki ikatan emosional dengan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Bahasa yang pertama kali didengar, lingkungan tempat bermain, budaya yang diwariskan, serta masyarakat yang membentuk karakter seseorang akan menjadi bagian dari identitas dirinya.
Kerinduan terhadap kampung halaman akan muncul ketika seseorang berada jauh dari tempat asalnya. Hal ini adalah bukti bahwa rasa memiliki terhadap tanah kelahiran bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan fitrah manusia.
Dalam Islam, rasa mencintai tempat kelahiran dan negeri yang ditempati juga telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ , Ketika beliau meninggalkan Kota Mekah beliau bersabda: "Alangkah baiknya engkau sebagai negeri dan alangkah aku mencintaimu. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di negeri selainmu." (HR. At-Tirmidzi).
Ini menunjukkan bahwa mencintai tanah kelahiran merupakan fitrah manusia dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan merupakan sunnah Rasulullah ﷺ. Muslim yang baik tentunya akan berupaya mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Disisi lain, dalam konteks kebangsaan, kecintaan terhadap tanah air merupakan wujud penghormatan terhadap sejarah, budaya, dan perjuangan yang telah diwariskan oleh orang tua kita dan generasi sebelumnya. Namun Islam melarang fanatisme buta pada suatu bangsa (negara) yang dapat melahirkan kebencian dan kezaliman kepada bangsa lain.
Nasionalisme yang benar adalah kecintaan kepada bangsa yang disertai keadilan, kejujuran, dan penghormatan terhadap sesama manusia (bangsa) lain. Kita dapat mencintai Indonesia sepenuh hati tanpa harus merendahkan bangsa lain. Kita dapat bangga terhadap budaya sendiri sekaligus tetap menghormati keberagaman dunia.
Pada kesempatan kali ini, pada bulan syukuran kemerdekaan RI 2026, penulis merangkum beberapa hal agar kita semua dapat mengingat kembali bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah anugrah dari Allah akan semua doa dan ikhtiar (pengorbanan, persatuan, dan kerja keras) para pendahulu kita.
Oleh sebab itu, bentuk syukur yang paling nyata bukan hanya mengadakan perayaan mewah dan megah, tetapi juga dengan menjaga hubungan kita dengan Allah yang maha kuasa dan kita terus berupaya menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa.
Pentingnya Nasionalisme bagi setiap warga negara
Manusia adalah mahluk memiliki kebutuhan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok dan identitas kolektif. Keberadaan negara menjadi salah satu unsur yang membantu seseorang memahami siapa dirinya dan di mana ia berada dalam kehidupan sosial.
Berikut ini beberapa keuntungan apabila rasa nasionalisme dimiliki setiap warga Indonesia, antara lain:
Memberikan Identitas dan Kepercayaan Diri
Seseorang yang mengenal sejarah, budaya, dan jati dirinya cenderung memiliki identitas yang lebih kuat. Identitas yang kuat membantu individu lebih percaya diri, tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh negatif, dan memiliki tujuan hidup yang lebih jelas.
Menumbuhkan Rasa Memiliki dan Tanggung Jawab
Secara psikologis, manusia akan lebih peduli terhadap sesuatu yang dianggap miliknya. Ketika masyarakat merasa memiliki negaranya, mereka terdorong untuk menjaga fasilitas umum, menaati aturan, melindungi lingkungan, serta terlibat dalam pembangunan sosial.
Mengurangi Apatisme Sosial
Kita menemukan banyak warga negara termasuk generasi muda mengalami kelelahan informasi akibat paparan berita negatif yang terus-menerus mengenai perkembangan negaranya. Akibatnya muncul sikap apatis dan keyakinan bahwa usaha mereka tidak akan membawa perubahan. Sedangkan rasa nasionalisme dapat menumbuhkan optimisme bahwa setiap kontribusi kecil memiliki nilai bagi masyarakat dan bangsa.
Memperkuat Ketahanan Bangsa
Masyarakat yang memiliki rasa persatuan dan identitas kebangsaan yang kuat akan lebih mampu menghadapi krisis, konflik sosial, maupun tantangan global. Ketahanan nasional tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga oleh solidaritas sosial di antara warga negara.
Nasionalisme adalah bukti Syukur kepada Allah dan Menimbulkan Kemaslahatan
Islam merupakan agama yang universal, tetapi tidak menghapus kecintaan manusia terhadap tanah kelahirannya. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada Kota Makkah saat beliau harus meninggalkannya untuk berhijrah.
Hal ini menunjukkan bahwa mencintai tanah kelahiran merupakan bagian dari fitrah manusia dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Negara yang Merdeka adalah Nikmat yang wajib disyukuri
Keamanan, kedamaian, sumber daya alam, keberagaman budaya, dan kesempatan hidup yang diberikan Allah kepada suatu bangsa merupakan nikmat yang harus disyukuri.
Salah satu bentuk syukur tersebut adalah menjaga dan memakmurkan negeri tempat kita hidup. Allah Subhanahu wataala berfirman: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." (Qs. Ibrahim: 7)
Menjaga Negara adalah Bentuk Menjaga Kemaslahatan
Tujuan syariat Islam adalah menghadirkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan. Karena itu, menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, memerangi korupsi, menciptakan keadilan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa. Allah Subhanahu wataala berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Maidah: 2).
Membangun Bangsa adalah bagian dari Ibadah
Belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja secara profesional, menjaga lingkungan, berinovasi, membantu masyarakat, dan berkontribusi sesuai bidang masing-masing merupakan bentuk amal saleh yang memberikan manfaat luas bagi kehidupan manusia.
Allah Subhanahu wataala berfirman: "Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 105). Apabila kita memahami bahwa kontribusi terhadap bangsa itu bernilai ibadah, maka bagi muslim akan tumbuh semangat membangun negeri sebagai bentuk mengejar keridhoan Allah.
Syukuran Kemerdekaan sebagai Momentum Aksi Nyata
Makna syukur atas kemerdekaan tidak berhenti pada ucapan atau seremoni. Syukur harus diwujudkan melalui tindakan nyata, antara lain:
Menjaga persatuan dan kerukunan di tengah perbedaan.
Menghormati jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui karya.
Meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan dan literasi.
Melestarikan budaya dan bahasa daerah maupun nasional.
Mendukung kemajuan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan inovasi.
Menggunakan media sosial secara bijak dan produktif.
Menjaga lingkungan dan fasilitas umum.
Mendukung inovasi, produktivitas, dan kemajuan bangsa.
Menjadi warga negara yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
Menggunakan hak dan kewajiban sebagai warga negara dengan bertanggung jawab.
Menghormati simbol-simbol negara.
Menolak hoaks serta narasi yang memecah belah bangsa.
Syukuran HUT Kemerdekaan Republik Indonesia sesungguhnya adalah momentum untuk kembali kepada fitrah manusia, yaitu mencintai tanah kelahiran dan berupaya memajukannya.
Pada bulan Agustus ini mari jadikan peringatan kemerdekaan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan titik refleksi untuk memperbarui komitmen sebagai warga bangsa. Kita tumbuhkan kembali rasa nasionalisme yang sehat, inklusif, dan penuh tanggung jawab.
Karena bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh sumber daya alam yang melimpah, tetapi oleh warga yang mencintai negerinya dengan hati, pikiran, dan tindakan nyata.
Dengan memadukan keimanan, ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian, kita dapat mewariskan Indonesia yang lebih maju, adil, sejahtera, dan bermartabat kepada generasi yang akan datang. Sebab mencintai tanah kelahiran bukan hanya fitrah, bagian dari kesyukuran kita kepada Allah atas Amanah yang diberikan kepada kita semua. Wallahu a’lam bishawab.
/Riki Irfan ST M.Si. (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)


