Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Proses rehabilitasi kolam ikan dewa di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, menuai sorotan tajam dari sejumlah pegiat lingkungan. Pembangunan yang seharusnya bertujuan memperbaiki habitat ikan kancra dewa justru dinilai berpotensi merusak keseimbangan ekosistem kolam.
Aktivis lingkungan Iwa Gunawan menilai proyek rehabilitasi kolam tersebut menghadapi berbagai persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan dukungan anggaran, lemahnya perencanaan teknis, hingga adanya kebijakan yang dinilai tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem alami kolam.
“Pembangunan kolam ikan dewa ini terkesan dilakukan secara konvensional dan sekadar tambal sulam, tanpa mempertimbangkan aspek ekologi kolam secara menyeluruh. Akibatnya, keberlangsungan ekosistem ikan di dalamnya menjadi sangat rentan,” ujar Iwa Gunawan.
Menurutnya, kondisi kolam saat ini justru semakin memprihatinkan. Populasi ikan kancra dewa yang menjadi ikon kolam tersebut disebut telah menurun drastis hingga nyaris punah.
Ia juga menyoroti pengerukan dasar kolam serta pengangkatan batu-batu alam yang selama ini menjadi bagian dari struktur alami habitat ikan. Selain itu, sumur perlindungan ikan yang sebelumnya berfungsi sebagai tempat berlindung disebut telah berubah menjadi cekungan terbuka tanpa perlindungan.
“Kerusakan ini bukan hanya soal fisik kolam, tetapi menyangkut keseimbangan ekosistem yang selama ini terbentuk secara alami,” katanya.
Iwa juga mengkritisi rencana penghilangan ikan nilem dari kolam tersebut. Menurutnya, langkah itu justru keliru karena ikan nilem memiliki fungsi ekologis penting.
“Ikan nilem tidak merebut makanan ikan dewa. Mereka justru memakan lumut dan sisa-sisa pakan yang tercecer di dasar kolam. Artinya keberadaan mereka membantu menjaga kebersihan kolam agar tidak terjadi pembusukan sisa makanan,” jelasnya.
Ia menilai rencana pemusnahan ikan nilem justru berpotensi memperparah kondisi kolam dan mempercepat kerusakan ekosistem.
Lebih lanjut, Iwa menyoroti adanya pihak-pihak yang dinilai terlalu jauh mencampuri proses pembangunan dengan berbagai usulan yang menurutnya tidak didasarkan pada kajian ilmiah yang memadai.
“Masukan yang muncul justru cenderung destruktif dan mengarah pada perubahan yang tidak sesuai dengan karakter alami kolam,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga menilai minimnya perhatian masyarakat terhadap kondisi kolam saat ini dipicu oleh kekecewaan yang telah lama menumpuk. Warga disebut hanya bisa menyayangkan kematian ikan secara massal dan kerusakan habitat yang terus terjadi.
Karena itu, Iwa meminta pemerintah daerah serta pihak terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), untuk mengevaluasi kembali konsep rehabilitasi kolam tersebut.
Ia menegaskan bahwa rehabilitasi kolam seharusnya tetap berpegang pada karakter alami kolam yang sudah terbentuk sejak lama.
“Perbaikan kolam seharusnya fokus pada hal-hal mendasar seperti perbaikan sistem pembuangan air, perlindungan sumur alami, serta memastikan aliran air dari sumber mata air tetap masuk langsung ke kolam,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar pembangunan tidak dilakukan hanya demi menyelesaikan proyek secara fisik, tetapi harus memperhatikan keseimbangan lingkungan secara menyeluruh.
“Pengerukan dasar kolam, pengangkatan batu alam, serta rencana pemusnahan ikan nilem berpotensi menjadi bentuk kejahatan lingkungan jika tidak segera dikaji ulang,” tegasnya.
Iwa berharap pemerintah dapat mengambil sikap tegas untuk memastikan proses rehabilitasi kolam ikan dewa di Cigugur benar-benar bertujuan memulihkan ekosistem, bukan justru merusaknya.
/Red


