Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Februari 06, 2026, 18.14 WIB
Last Updated 2026-02-06T11:14:17Z
HeadlineHumaniora

Kolam Ikan Dewa Cigugur di Ambang Kolaps: Salah Desain, Salah Kelola, dan Pembiaran Institusional

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Krisis di Kolam Ikan Dewa Cigugur menelanjangi masalah yang lebih dalam dari sekadar kekurangan air. Fakta lapangan menunjukkan kombinasi desain infrastruktur yang keliru, keputusan administratif yang sembrono, serta pembiaran lintas institusi yang berujung pada kematian ikan endemik bernilai ekologis dan budaya tinggi.

Penanganan darurat yang dilakukan Kamis (6/2/2026) justru membuka borok lama. Pekerja terpaksa membobol coran pembuangan air yang dibuat permanen dan masif. Kolam tidak memiliki sistem buang yang fungsional. Air masuk, tetapi tidak pernah benar-benar bisa keluar. Desainnya menyerupai “kuali tertutup” cacat sejak awal dan tak ramah ekosistem.

Untuk menjaga sirkulasi sementara, tiga unit pompa air bantuan sektor perikanan dikerahkan. Namun upaya ini bersifat kosmetik. Di kolam, ikan dewa terlihat mabok, sekarat, dan mati. Ini bukan insiden alami, melainkan akibat langsung dari rusaknya sistem hidup ikan.


Masalah makin telanjang saat air menyusut. Sumur di dasar kolam ruang aman alami tempat ikan bertahan saat kondisi ekstrem ternyata telah dicor permanen. Air tanah tidak keluar, ikan tak bisa masuk, dan mekanisme penyelamatan biologis yang selama puluhan tahun bekerja secara alami kini dimatikan oleh beton.

“Air habis, ruang aman ditutup, ikan dibiarkan tanpa opsi. Ini bukan musibah, ini kegagalan,” ujar warga Cigugur yang sejak pagi memantau kondisi kolam.

Bagi masyarakat sekitar Balong Cigugur, peristiwa ini belum pernah terjadi. Ikan dewa yang selama ini diyakini kuat dan terjaga kini mati bergelimpangan. Kolam yang dulu hidup, kini menjadi jebakan.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai krisis ini sebagai hasil dari keputusan institusional yang salah arah.

“Penutupan aliran air oleh PDAM, ditutupnya saluran bawah kolam, dan dimatikannya sistem pembuangan bukan tindakan netral. Semua itu punya konsekuensi langsung terhadap ekosistem. Dan konsekuensinya kini terlihat jelas,” katanya.

Iwa juga menyoroti pengelola kolam yang dinilai gagal memahami bahwa kolam ikan dewa bukan sekadar aset wisata atau objek retribusi.

“Bangunan lama yang punya nilai sejarah diubah tanpa sensitivitas ekologis. Kualitas konstruksi rendah, fungsi ekologis hilang, dan kolam dikelola tanpa standar pemeliharaan habitat. Ini pengelolaan yang salah kaprah,” ujarnya.

Sorotan turut diarahkan pada Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hilangnya vegetasi penyangga, berkurangnya perlindungan kawasan, serta absennya peran aktif dalam menjaga mata air dinilai sebagai bentuk pembiaran yang mempercepat krisis.

Merespons situasi ini, warga yang tergabung dalam Komunitas Penyelamat Mata Air dan Habitat Ikan Dewa Cigugur menyatakan sikap tegas. Mereka menyatakan kesiapan mengambil alih pengelolaan kolam jika pihak-pihak terkait terus gagal menjalankan tanggung jawabnya.

“Airnya disedot, kolamnya ditarif, tapi ekosistemnya dibiarkan rusak. Ini bukan pengelolaan sumber daya, ini eksploitasi,” tegas perwakilan komunitas.

Bagi warga Cigugur, Kolam Ikan Dewa kini menjadi simbol kegagalan pengelolaan sumber daya berbasis proyek dan beton. Kolam kehilangan fungsi ekologis, nilai budaya, dan manfaat sosialnya. Padahal mata air dan kolam ini menopang pertanian, lingkungan, dan identitas lokal.

Tanpa evaluasi menyeluruh dan perubahan tata kelola, krisis ini berpotensi menjadi preseden buruk: warisan alam dikorbankan oleh desain gagal dan pembiaran birokratis, lalu ditutup dengan alasan teknis.

/Red