Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Februari 10, 2026, 10.37 WIB
Last Updated 2026-02-10T03:39:43Z
HeadlineHumaniora

Ketika Daging Busuk Dibagi Diam-diam, Kebenaran pun Jadi Barang Tawar

Advertisement

HUTAN RAYA - JOURNALGAMAS.COM,-
Ketenteraman rimba mendadak riuh setelah terbongkarnya praktik penyimpanan daging busuk milik seekor tikus liar yang selama ini dikenal licin dan pandai bersembunyi. Daging hasil potongan misterius itu disimpan diam-diam sebagai cadangan pribadi, jauh dari pengetahuan kawanan tikus lainnya.

Namun kelengahan tikus liar berbuah petaka. Aroma busuk menarik perhatian kawanan burung gagak yang sejak lama dikenal gemar berkicau keliling hutan, menyebarkan kabar apa pun yang mereka lihat—atau ingin dilihat.

Dalam sebuah insiden yang menyerupai sidang darurat raja hutan, dua ekor gagak menyergap tikus liar dan melakukan “interogasi moral”. Terpojok, tikus mengaku khilaf dan—demi meredam kegaduhan—menyodorkan seperempat bagian daging busuk kepada kedua gagak tersebut. Ajaibnya, setelah menerima “jatah”, dua gagak itu tersenyum, lalu terbang pulang ke sarang seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Sayangnya, drama itu tak sepenuhnya senyap. Seorang anak tikus, saksi tak disengaja, mendengar seluruh transaksi senyap tersebut.

Beberapa saat kemudian, anak tikus itu bertemu rombongan gagak lain di pojok sawah. Hampir saja ia bernasib tragis, namun kecerdikannya menyelamatkan nyawa. Dalam cengkeraman kaki tajam sang gagak, anak tikus berbisik, “Aku punya kabar baik.”

Kabar itu sontak membakar emosi gagak setengah baya yang memimpin rombongan. Ternyata, dua gagak sebelumnya telah menerima bagian daging busuk secara diam-diam, tanpa sepengetahuan kawanan. Padahal, menurut klaim mereka, setiap temuan daging—busuk atau tidak—adalah “milik bersama”.

“Kurang ajar!” teriak gagak tua, sebelum memerintahkan anak tikus dilepas. Dalam rapat kilat di udara terbuka, ia menyatakan dua gagak penerima daging busuk itu resmi dikeluarkan dari kelompok.

“Kita dikhianati oleh kawan sendiri. Mereka mengambil jatah tanpa transparansi. Mulai sekarang, gagak sialan itu bukan bagian dari kita,” serunya lantang.

Pengamat hutan menilai peristiwa ini sebagai potret buram ekosistem moral rimba: tikus menimbun daging busuk hasil praktik kotor, sementara gagak yang seharusnya mengabarkan kebenaran justru sibuk menegosiasikan “jatah tutup mulut”. Ironisnya, konflik baru meledak bukan karena busuknya daging, melainkan karena pembagiannya yang tak merata.

Hutan kembali tenang, namun aroma busuk masih tertinggal—menyiratkan bahwa selama daging busuk tetap ada, kicauan kebenaran akan selalu mudah dibungkam, setidaknya sampai kawanan kembali pecah kongsi.

/Red