Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Februari 11, 2026, 22.14 WIB
Last Updated 2026-02-11T15:14:19Z
HeadlineHumaniora

Dari Traktor ke Supercar: Ketika Diremehkan Menjadi Titik Balik Legenda

Advertisement

JOURNALGAMAS.COM,-
Di sebuah desa kecil di Italia, Ferruccio Lamborghini dikenal sebagai pengusaha sukses pembuat traktor pertanian. Bisnisnya maju pesat setelah Perang Dunia II. Ia bukan hanya cerdas membaca peluang, tapi juga piawai merakit mesin.

Kesuksesan itu membuatnya mampu membeli mobil-mobil sport impian. Salah satunya: Ferrari.

Namun ada satu hal yang mengganggu Ferruccio. Menurutnya, Ferrari memang cepat dan gagah, tetapi kurang nyaman dikendarai. Ia menemukan masalah pada kopling mobilnya. Sebagai ahli mesin, ia tahu ada yang bisa diperbaiki.

Ferruccio pun melakukan sesuatu yang jarang dilakukan orang: ia mendatangi langsung Enzo Ferrari.

Dengan niat baik, ia menyampaikan masukan. Ia bahkan menunjukkan bahwa komponen kopling Ferrari ternyata menggunakan suku cadang yang sama dengan traktornya.

Alih-alih mendapat apresiasi, Ferruccio justru mendapat kalimat yang menusuk harga diri:

"Kamu ini hanya pembuat traktor. Jangan mengajari saya membuat mobil sport."

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin cukup untuk mundur.

Cukup untuk berkata, “Ya sudah, memang bukan bidang saya.”

Tapi tidak bagi Ferruccio.

Ia pulang dengan satu tekad:

Jika ia dianggap tidak pantas berbicara tentang mobil sport, maka ia akan membuktikan dirinya dengan cara paling elegan   membangun mobil sport yang lebih baik.

Tahun 1963, Automobili Lamborghini resmi berdiri.

Mobil pertamanya bukan sekadar cepat. Ia dirancang lebih halus, lebih nyaman, lebih stabil. Lamborghini tidak hanya ingin menyaingi Ferrari . Ia ingin melampauinya dalam kualitas dan pengalaman berkendara.

Dan sejarah mencatat:

Miura. Countach. Diablo. MurciƩlago. Aventador.

Nama-nama itu menjadi simbol keberanian, kemewahan, dan performa ekstrem.

Semua berawal dari satu kalimat peremehan.

Pelajaran Besarnya

Kisah Ferruccio Lamborghini bukan sekadar cerita persaingan dua merek mobil. Ini tentang mentalitas.

Sering kali, legenda lahir bukan dari pujian tetapi dari diremehkan.

Peremehan memiliki dua kemungkinan hasil:

Menghancurkan kepercayaan diri.

Menyalakan api pembuktian.

Ferruccio memilih yang kedua.

Sejarah menunjukkan, banyak tokoh besar justru dipicu oleh underestimating orang lain. Diremehkan bukan akhir cerita,justru sering menjadi prolog sebuah mahakarya.

Karena ketika seseorang benar-benar yakin pada kemampuannya, hinaan tidak menjadi penghalang. Ia berubah menjadi bahan bakar.

Dan mungkin, di hidup kita pun begitu.

Bisa jadi, kalimat yang meremehkan hari ini

adalah awal dari legenda yang sedang ditulis esok hari.

Diremehkan itu biasa.

Menjawabnya dengan karya itu luar biasa.***