Advertisement
JOURNALGAMAS.COM,- Isra Mikraj kerap dipahami secara sederhana: Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sementara Mikraj adalah perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Namun, di balik definisi itu, tersimpan pesan besar yang sering luput dibaca secara mendalam terutama ketika kita menelusuri jalur yang dilalui Nabi SAW dalam peristiwa Isra.
Jalur dari Makkah menuju Baitul Maqdis bukanlah jalur damai. Sepanjang sejarah manusia, wilayah ini dikenal sebagai jalur perebutan kekuasaan, perang, pertumpahan darah, dan kehancuran peradaban. Dari konflik antar kerajaan kuno, invasi Romawi dan Persia, Perang Salib, hingga konflik modern yang tak kunjung padam, jalur ini nyaris tak pernah sepi dari kematian. Ia adalah jalan luka kolektif umat manusia. Pertanyaannya: mengapa Allah justru melewatkan Nabi SAW melalui jalur yang paling “buruk” dalam sejarah kemanusiaan?
Di sinilah makna Isra melampaui kisah perjalanan fisik. Allah tidak memilih jalur netral atau “aman”, melainkan jalur paling bermasalah di muka bumi. Seakan ingin ditegaskan: risalah Islam tidak turun untuk ruang steril, melainkan hadir di tengah konflik, ketidakadilan, dan kekacauan manusia. Nabi SAW diperlihatkan langsung wajah paling gelap peradaban sebelum kemudian diangkat ke langit menerima perintah salat ibadah yang menjadi jangkar keteguhan manusia di tengah dunia yang rapuh.
Masjidil Aqsa sendiri saat itu belum berdiri megah. Ia masih berupa tanah berbatu, namun telah disebut “masjid”. Ini pesan lain yang tajam: kesucian dan nilai tidak selalu ditentukan oleh bangunan, melainkan oleh fungsi spiritual dan amanah kemanusiaannya. Aqsa menjadi simbol bahwa tanah yang paling sering diperebutkan manusia justru dipilih Allah sebagai titik temu para nabi, tempat konsolidasi risalah tauhid sebelum Nabi Muhammad SAW naik menghadap-Nya.
Isra Mikraj, dengan demikian, adalah pesan kemanusiaan universal. Ia mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak memisahkan manusia dari realitas sosial, tetapi justru menuntut keberanian menghadapi luka dunia. Salat lima waktu yang diterima langsung tanpa perantara bukan sekadar ritual, melainkan latihan keteguhan (istiqamah) agar manusia tidak larut dalam kekerasan, keserakahan, dan perebutan kuasa yang berulang dari zaman ke zaman.
Lebih jauh, peristiwa ini juga menanamkan pelajaran bersyukur secara total. Bahwa bahkan dari jalur paling kelam, Allah menurunkan cahaya petunjuk. Bahwa di balik sejarah berdarah, selalu ada peluang perbaikan jika manusia mau kembali kepada nilai-nilai ilahiah: keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral.
Maka Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa langit, melainkan cermin bumi. Ia mengingatkan umat Islam dan seluruh manusia bahwa tugas spiritual tidak pernah terpisah dari tanggung jawab sosial. Bahwa jalan menuju Tuhan sering kali melewati lorong penderitaan manusia. Dan bahwa agama, pada hakikatnya, hadir bukan untuk menghindari konflik dunia, melainkan untuk menyembuhkannya.
/Catatan Redaksi


