Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Desember 28, 2025, 16.56 WIB
Last Updated 2025-12-28T09:56:50Z
EksosbudHeadline

Tokoh Pemuda Marhaen Jabar Evaluasi Kinerja Bupati Kuningan: Jangan Sekadar Seremonial

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menyampaikan evaluasi akhir tahun terhadap kinerja Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan kepala daerah tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kegiatan seremonial, melainkan harus diwujudkan dalam kehadiran nyata dan solusi konkret bagi persoalan masyarakat.

Menurut Iwa, Bupati sebagai kepala daerah seharusnya bersikap proaktif menjalankan fungsi pelayanan publik, tidak sekadar menunggu laporan atau permintaan dari masyarakat. Kepala daerah dituntut hadir langsung di tengah warga, terutama saat masyarakat menghadapi musibah seperti banjir, longsor, gagal panen, hingga wabah penyakit yang menyerang ternak.

“Ketika petani dan peternak mengalami musibah, mereka tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi solusi nyata agar tidak jatuh ke jurang kemiskinan dan kebangkrutan usaha,” tegasnya. Minggu (28/12/2025)

Iwa menyoroti lemahnya perhatian pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, terhadap penderitaan peternak yang mengalami kerugian besar akibat ternaknya sakit bahkan mati. Ia mengaku tidak melihat adanya langkah konkret dari kepala daerah maupun dinas pertanian dan peternakan dalam menangani persoalan tersebut.

“Kerugian petani dan peternak seolah dibiarkan. Jangankan ganti rugi, bantuan obat ataupun pendampingan pun hampir tidak ada,” ujarnya.

Ia menilai, dinas pertanian dan peternakan seharusnya aktif turun ke lapangan dengan penuh tanggung jawab ketika terjadi kematian massal ternak. Pemerintah daerah, kata dia, tidak boleh membiarkan peternak menghadapi persoalan hama dan penyakit sendirian hingga usahanya hancur.

Selain persoalan ekonomi peternak, Iwa juga menyoroti dampak lingkungan dari aktivitas peternakan yang tidak dikelola dengan baik. Limbah kotoran ternak yang mencemari sungai dinilai telah merusak habitat, menghilangkan ikan, serta mengganggu sistem irigasi akibat penumpukan kotoran yang bercampur sampah plastik dan limbah lainnya.

Padahal, lanjut Iwa, Kabupaten Kuningan dikenal sebagai salah satu daerah penghasil susu murni serta sentra peternakan sapi perah dan ternak babi, khususnya di wilayah Cigugur. Produk peternakan tersebut telah lama memasok kebutuhan ke berbagai daerah, termasuk Jakarta, Tangerang, dan Jawa Tengah.

Ia juga mendorong optimalisasi peran Dinas Pertanian dalam pengembangan bibit unggul lokal, baik padi maupun tanaman palawija yang sesuai dengan karakter wilayah pegunungan. Upaya tersebut harus dibarengi dengan perlindungan lingkungan melalui penghijauan dan pengendalian penebangan pohon yang tidak terkendali.

“Kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan yang masif bisa memicu longsor dan banjir, seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain. Karena itu, regulasi yang tegas sangat dibutuhkan, termasuk pembatasan pembangunan pariwisata di kawasan sekitar Gunung Ciremai,” katanya.

Iwa juga menilai kinerja Bupati Kuningan saat ini masih terkesan belum memiliki arah prioritas yang jelas. Ia menyoroti belum terlihatnya program unggulan yang benar-benar mencerminkan kebutuhan dan identitas daerah, khususnya di sektor pertanian.

“Kuningan dulu dikenal dengan beras lokalnya yang pulen, seperti Mayor Jambon dan Ranggeyan. Dengan lahan yang semakin sempit, seharusnya ada kebijakan strategis untuk menjaga dan menyediakan lahan pertanian produktif,” ujarnya.

Ia mengkritik alih fungsi lahan pertanian subur, terutama di kawasan Palutungan, yang dinilai lebih banyak diarahkan untuk kepentingan wisata. Menurutnya, pemerintah daerah harus berani menindak tegas pembangunan yang melanggar peruntukan lahan produktif.

Dalam konteks penataan kota, Iwa membandingkan Kuningan dengan daerah tetangga seperti Ciamis dan Cirebon yang masih memiliki alun-alun luas dan representatif sebagai identitas kota. Sementara di Kuningan, penataan kota dinilai stagnan dan lebih berfokus pada kosmetik visual seperti lampu dan renovasi bangunan toko.

“Daripada taman kota yang sempit dan memanjang, alun-alun yang luas dan indah akan jauh lebih mencerminkan identitas Kuningan sebagai kabupaten tua dan bersejarah,” pungkasnya.

/Red