Journal Gamas

Label


lisensi

Red
Desember 15, 2025, 09.56 WIB
Last Updated 2025-12-15T02:58:28Z
EksosbudHeadline

Pembangunan Wisata Dinilai Abaikan Pertanian, Iwa Gunawan: Ini Kemiskinan Sistematis

Advertisement

KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,-
Warga Cigugur yang sekaligus tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai tata kelola air yang bersumber dari Lereng Gunung Ciremai hingga wilayah Kabupaten Kuningan telah mengalami penyimpangan serius. Air yang sejatinya menjadi pondasi utama pertanian masyarakat justru dialihkan untuk kepentingan lain, terutama pengembangan pariwisata, yang pada akhirnya mengorbankan keberlangsungan hidup petani.

Menurut Iwa Gunawan, sektor pertanian seharusnya menjadi prioritas utama dalam pemanfaatan air, karena menjadi fondasi ekonomi masyarakat. “Air dari lereng Ciremai itu pertama dan utama untuk irigasi pertanian. Kalau pondasi pertanian kuat dan pengelolaan air berjalan benar, barulah sektor lain seperti air minum dan pariwisata bisa berkembang secara sehat,” ujarnya, Senin (15/12/2025).

Ia menegaskan, pengembangan wisata seharusnya bersifat terkendali dan tidak merusak sistem irigasi. Namun realitas yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kawasan wisata dibangun tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan, bahkan memutus saluran irigasi primer dan tersier. Akibatnya, lahan pertanian kehilangan pasokan air dan berubah menjadi tidak produktif.

Iwa Gunawan juga mengaitkan kondisi tersebut dengan maraknya bencana banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah Nusantara. Menurutnya, bencana ekologis ini bukan disebabkan oleh masyarakat sekitar hutan, melainkan oleh kebijakan yang salah serta praktik perizinan yang ceroboh. “Ini akibat ulah para pihak yang berkuasa, baik dalam pemberian izin pengelolaan hutan maupun para pengusaha yang membangun wisata tanpa mengindahkan aturan konservasi,” tegasnya.

Lebih tajam, Iwa Gunawan menyoroti peran kepala daerah yang dinilai abai terhadap kepentingan rakyat. Ia menyebut, seharusnya pemerintah daerah memperkuat pertanian sebagai sumber kehidupan masyarakat. Namun yang terjadi, justru ada indikasi kolaborasi dengan pengusaha untuk membangun bisnis wisata demi keuntungan semata. “Ketika penguasa lebih berpihak pada pengusaha hitam, maka rakyat kecil pasti menjadi korban,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kawasan resapan air dan konservasi harus tetap dijaga, dilestarikan, bahkan dikembangkan agar semakin subur dan produktif. Kuncinya adalah perbaikan tata kelola irigasi sehingga pengairan pertanian terjamin dan petani dapat meningkatkan hasil tanam tanpa merusak kelestarian hutan.

Terkait pariwisata, Iwa Gunawan tidak menolak kehadirannya. Namun ia menekankan, wisata harus dibangun dengan konsep yang selaras dengan pertanian. “Wisata itu baik kalau tidak menghilangkan basis tanah pertanian. Justru harus mendukung produktivitas petani dan memberi manfaat ekonomi bersama,” katanya.

Kenyataan di lapangan, lanjut Iwa Gunawan, menunjukkan kesalahan fatal yang terus berulang. Tanah-tanah garapan petani perlahan hilang, berubah menjadi bangunan wisata permanen yang megah. Saluran irigasi rusak, air dialihkan untuk kebutuhan hotel dan fasilitas wisata, sementara lahan pertanian dibiarkan kering.

Dampaknya sangat nyata. Ketika tanah tidak lagi produktif, petani terpaksa menjual lahannya. “Setelah tanah habis, petani kehilangan pekerjaan dan dipaksa menjadi buruh serabutan atau tukang ojek. Ini benar-benar terjadi di wilayah Palutungan dan sekitarnya,” ungkapnya.

Iwa Gunawan menilai, kondisi di kawasan Palutungan, Kramatmulya, dan daerah penyangga lainnya akan terus memburuk jika tidak ada evaluasi serius. Ia menyoroti maraknya bangunan permanen di kawasan yang sebelumnya dilarang untuk pembangunan permanen. Perubahan fungsi hutan dan lahan pertanian menjadi kawasan wisata, menurutnya, telah mengacaukan aliran air dan memperparah kemiskinan secara sistematis.

“Jika ini terus dibiarkan, yang terjadi bukan hanya kerusakan lingkungan, tapi kematian perlahan para petani secara kolektif. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi sumber malapetaka,” pungkas Iwa Gunawan.

/Red