Advertisement
KUNINGAN - JOURNALGAMAS.COM,- Memaknai Waktu, Menemukan Peran. Menjelang pergantian tahun, ruang publik kembali dipenuhi aneka refleksi. Media memuat rangkaian peristiwa, daftar pencapaian, evaluasi kinerja, hingga harapan-harapan baru. Namun di balik hiruk-pikuk penanda waktu itu, layakkah kita berhenti sejenak dan bertanya lebih dalam: apa sebenarnya yang kita sebut sebagai tahun baru? Apakah ia benar-benar sesuatu yang datang, atau sekadar penamaan atas pergerakan yang terus berlangsung?
Dahulu, sekarang, dan nanti tiga istilah yang seolah tegas membedakan waktu. Padahal, sejak lama manusia menyepakati deretan penanda: detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, windu, abad, hingga milenium, sebagai cara memahami perubahan. Semua itu kita sebut waktu. Namun, dalam ajaran Islam, waktu memiliki poros yang lebih dalam, yang dikenal sebagai azali sebuah titik kesadaran yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pada hakikatnya, waktu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia bukan entitas yang berjalan terpisah dari kehidupan. Yang sesungguhnya terjadi adalah pergerakan keadaan dinamis, berubah, dan terus berlangsung. Semakin kita menengok ke luar diri, perubahan tampak cepat dan riuh. Namun semakin ke dalam, perubahan itu kian melambat, hingga pada satu titik yang nyaris tanpa gerak.
Lalu, kapan sebenarnya azali itu?
Setahun lalu? Seratus tahun silam? Atau jauh sebelum ingatan manusia?
Kita tak pernah benar-benar tahu. Bahkan, mungkin kekeliruan kita selama ini adalah menganggap azali sebagai sesuatu yang “dahulu kala”. Padahal azali bisa saja adalah sekarang saat ini di sini. Ia bergerak bersamaan dengan kekinian. Sebagai poros waktu, azali tidak berada di belakang atau di depan, melainkan selalu hadir.
Dalam keyakinan Islam, catatan takdir di Lauh Mahfudz bergerak seiring dengan gerak manusia. Ia tidak mendahului, tidak pula tertinggal. Detik ini, saat tubuh bergerak, pada saat yang sama takdir itu ditulis. Kesadaran ini menegaskan bahwa hidup bukan sekadar menunggu apa yang akan terjadi, melainkan berjalan bersama ketetapan yang terus berlangsung.
Gagasan ini, menariknya, juga digaungkan dalam karya sastra modern. Dalam Supernova, Dewi Lestari (Dee) menggugat konsep waktu yang linier. Waktu digambarkan sebagai ilusi, sebagai konstruksi kesadaran, bahkan sebagai siklus yang berulang. Melalui tokoh-tokohnya, Dee mengajak pembaca mempertanyakan realitas yang selama ini dianggap mutlak.
Terlepas dari beragam persepsi baik spiritual, filosofis, maupun sastra waktu pada akhirnya tetap kita hadapi sebagai interval, barisan angka yang kita beri makna. Namun yang terpenting bukanlah angka-angka itu, melainkan bagaimana kita memaknai peran kita di dalamnya.
Manusia bukan sekadar penonton dalam alur peristiwa kehidupan. Kita adalah pemeran yang diberi amanat sebagai khalifah fil ardhi penjaga keseimbangan bumi. Tugas itu menuntut keselarasan dengan sunnatullah: menjaga harmoni antara manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk ciptaan.
Maka, ketika tahun berganti, barangkali pertanyaan terpenting bukanlah apa yang telah kita capai, melainkan: sejauh mana kita telah hadir secara sadar dalam waktu yang kita jalani. Sebab pada akhirnya, bukan waktu yang menentukan nilai hidup manusia, tetapi bagaimana manusia memberi makna pada setiap saat yang sedang berlangsung untuk kembali pada Sang Pemilik Mutlak kehidupan yang di dalamya ruang dan waktu berada.
/Catatan Redaksi


