Advertisement
Fauzan mengutip hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa “Surga berada di bawah telapak kaki ibu” sebagai peneguhan betapa mulianya kedudukan seorang ibu. Namun, makna tersebut menurutnya tidak berhenti pada pengertian personal semata, melainkan memiliki tafsir yang jauh lebih luas dan mendalam.
Dalam pemaknaan filosofis, ibu digambarkan sebagai hamparan ruang tanpa batas, sebagaimana bumi atau tanah beserta air yang menjadi sumber kehidupan. Dari rahim bumi inilah seluruh makhluk hidup terlahir, tumbuh, dan berkembang di bawah naungan langit. Sosok ini kemudian dikenal sebagai Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi.
“Ibu Pertiwi adalah pengasuh para ksatria, para penjaga nilai kebenaran, yang berdiri tegak melawan kebatilan dan penindasan terhadap martabat sang ibu,” ujar Fauzan. Senin (22/12/2025)
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua manusia layak disebut sebagai ksatria. Ketika manusia justru berkhianat, bersikap durhaka, dan berdiri di barisan kebatilan, merusak alam, menindas sesama, serta mengoyak harkat dan martabat Ibu Pertiwi, maka murka alam menjadi keniscayaan.
Pada titik inilah, menurut Fauzan, wajah ibu yang penuh kasih dapat berubah menjadi sosok Durga, simbol kehancuran dan pembalas ketidakadilan. Bencana, kerusakan lingkungan, dan kehancuran sosial dipandang sebagai peringatan keras akibat pengkhianatan manusia terhadap ibu yang melahirkannya.
Pesan Moral:
Narasi ini mengajarkan bahwa menghormati ibu tidak cukup hanya dalam relasi keluarga, tetapi juga dalam sikap kita terhadap alam, kehidupan, dan nilai kebenaran. Kasih sayang ibu akan selalu hadir bagi mereka yang menjaga, merawat, dan melindungi kehidupan. Namun, pengkhianatan terhadap ibu baik ibu kandung maupun Ibu Pertiwi akan berujung pada kehancuran yang diciptakan oleh tangan manusia itu sendiri.
Manusia dituntut untuk memilih: menjadi ksatria penjaga martabat ibu, atau menjadi durhaka yang menanggung akibat murkanya.
/Moris



